Ramadan kerap menghadirkan suasana berbeda di berbagai kota. Menjelang waktu berbuka, jalanan semakin padat, pusat perbelanjaan ramai, dan notifikasi ponsel terdengar lebih sering dari biasanya.
Di saat yang sama, aktivitas digital turut meningkat. Pesanan makanan bertambah, paket hilir mudik di layanan pengiriman, donasi digital melonjak, dan pelaku UMKM merasakan kenaikan transaksi. Banyak hal bergerak lebih cepat dan terasa lebih terkoneksi.
Namun, di balik riuhnya pergerakan itu, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: apa yang sebenarnya memungkinkan semua aktivitas digital tersebut berlangsung.
Orang lebih mudah melihat diskon, aplikasi belanja, promo pengiriman, atau fitur pembayaran instan. Sebaliknya, “jalan” yang membuat berbagai transaksi dan layanan digital bisa berjalan lancar jarang disadari. Kemudahan dinikmati, sementara infrastruktur yang bekerja senyap di belakang layar sering tidak terlihat.
Dalam analogi sederhana, jika internet adalah jalan raya baru perekonomian modern, maka Ramadan dapat diibaratkan sebagai musim mudiknya ekonomi digital—ketika kendaraan melaju kencang dan arus transaksi mengalir deras. Pertanyaannya, apakah semua orang sudah memiliki akses ke jalan raya itu, atau masih ada yang berdiri di pinggirnya dan hanya menyaksikan dari kejauhan.
Dalam banyak pembahasan tentang digitalisasi, perhatian sering tertuju pada aplikasi: marketplace, dompet digital, platform pembelajaran daring, hingga media sosial. Padahal, digitalisasi bukan semata soal aplikasi, melainkan juga soal struktur yang menopangnya.
Aplikasi dapat dipandang sebagai kendaraan, sementara infrastruktur adalah jalan raya. Tanpa jaringan yang stabil, konektivitas yang menjangkau, dan pusat data yang menyimpan serta mengelola informasi, berbagai aplikasi tersebut berisiko hanya menjadi ikon di layar yang tidak berfungsi optimal.
Karena itu, pembicaraan mengenai percepatan ekonomi digital juga menuntut perhatian pada fondasinya: infrastruktur yang memastikan kesempatan akses tidak hanya dinikmati sebagian orang, melainkan dapat dirasakan lebih luas.