Peta industri gadget global perlahan berubah. China, yang selama ini dikenal sebagai pusat manufaktur utama dunia, mulai ditinggalkan sebagian perusahaan teknologi yang meninjau ulang ketergantungan produksi mereka.
Salah satu pemicu utamanya adalah meningkatnya tensi geopolitik antara China dan Amerika Serikat. Ancaman tarif tinggi membuat sejumlah perusahaan mempertimbangkan risiko jika tetap bergantung penuh pada basis produksi di China.
Di tengah situasi tersebut, India bergerak cepat menarik investasi manufaktur elektronik. Di bawah arahan Perdana Menteri Narendra Modi, pemerintah India menawarkan berbagai insentif untuk mendorong perusahaan membangun dan memperluas fasilitas produksi di dalam negeri.
Hasilnya terlihat pada kinerja industri smartphone India. Pada tahun fiskal 2024–2025, nilai produksi smartphone di India mencapai US$60 miliar, meningkat tajam dibanding satu dekade sebelumnya. Dari sisi ekspor, nilainya tercatat US$21,7 miliar, yang menjadikan ponsel sebagai komoditas ekspor utama negara itu.
Pergeseran ini juga tercermin dari langkah perusahaan besar. Sepanjang 2025, sekitar 55 juta iPhone diproduksi di India, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Jumlah tersebut setara hampir seperempat dari produksi iPhone global. Samsung juga disebut telah lebih dulu memperkuat basis produksinya di India.
Tren diversifikasi produksi ini turut dipercepat oleh kebijakan perdagangan pada era Presiden AS Donald Trump, ketika tarif tinggi terhadap produk China mendorong perusahaan mencari alternatif lokasi manufaktur.
India berupaya mempertahankan momentum. Setelah program insentif bernilai hampir US$21 miliar berakhir, pemerintah menyiapkan skema baru yang disebut lebih agresif, dengan fokus pada dorongan ekspor dan peningkatan daya saing global.
Perkembangan ini menandai babak baru dalam industri teknologi, ketika pusat produksi mulai bergeser. China masih memiliki posisi kuat, namun India kian menonjol sebagai kandidat penting dalam rantai pasok smartphone dunia.