BERITA TERKINI
Psikolog Paparkan Strategi Mengatasi Anak Kecanduan Gadget agar Tidak Memicu Tantrum

Psikolog Paparkan Strategi Mengatasi Anak Kecanduan Gadget agar Tidak Memicu Tantrum

Perkembangan teknologi digital membuat gim dan media sosial semakin mudah diakses anak. Kondisi ini dapat memicu kecanduan, yang pada sebagian anak berujung pada tantrum atau ledakan emosi ketika aktivitas digital dihentikan.

Psikolog Dewi Rosdiana menjelaskan, salah satu tanda anak mengalami kecanduan adalah ketika paparan konten digital yang terus-menerus membuat otak terbiasa dengan respons cepat, termasuk dorongan “dopamin instan”. Menurutnya, penghentian aktivitas digital secara mendadak dapat memicu reaksi emosional yang berlebihan.

Dewi juga menyoroti faktor relasi sosial dalam kehidupan nyata. “Anak butuh relasi sosial yang bermakna, yang membuat dia nyaman, saat tidak terpenuhi oleh keluarga dan teman sekitar, anak akan kesepian, tidak puas dengan hubungan sosialnya di kehidupan nyata. Inilah yang menjadi faktor kecanduan yang paling umum,” kata Dewi kepada rri.co.id, Rabu (8/2026).

Ia menambahkan, kecanduan media sosial dapat berdampak pada kesehatan mental serta cara berpikir anak. Karena itu, diperlukan strategi layanan psikologi yang dapat membantu dalam proses rehabilitasi.

Menurut Dewi, anak yang kecanduan media sosial cenderung memiliki toleransi dan komunikasi yang lebih tinggi di dunia maya dibandingkan di kehidupan nyata. “Lebih aktif di medsos daripada ngobrol dengan orang di darat,” ujarnya.

Ia menilai, sebagian anak dapat mencampuradukkan kehidupan di media sosial dengan kehidupan nyata karena merasa tidak mencapai kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya, cara berpikir dan tindakan bisa menjadi bermasalah, tidak efektif, atau tidak realistis.

Untuk pencegahan dan penanganan, Dewi menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengantisipasi aktivitas digital anak dengan kegiatan luar ruangan, seperti permainan yang mengandalkan aktivitas fisik dan interaksi. Langkah ini dinilai dapat membantu menyeimbangkan kondisi emosional anak. Orang tua juga diminta mengawasi jenis konten yang dikonsumsi agar tidak menimbulkan stimulasi berlebihan.