BERITA TERKINI
Psikolog Ingatkan Dampak Penggunaan Gadget Berlebihan pada Kesehatan Fisik dan Mental Anak

Psikolog Ingatkan Dampak Penggunaan Gadget Berlebihan pada Kesehatan Fisik dan Mental Anak

Bandung — Psikolog anak dan keluarga Fitri Andriyani mengingatkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan fisik dan mental, terutama pada anak dan remaja. Peringatan itu ia sampaikan dalam kegiatan Kelas Digital Sahabat Tunas di Selah Hall, Kota Bandung, Rabu (15/4/2026).

Dalam pemaparannya, Fitri menilai sebagian besar waktu manusia kini banyak dihabiskan di ruang digital. Dari total 24 jam sehari, ia menyebut banyak individu menggunakan gadget lebih dari separuh waktunya. “Artinya, kita lebih banyak hidup di ruang yang sebenarnya tidak kita kenal secara nyata,” ujarnya.

Fitri menjelaskan, durasi penggunaan gadget yang panjang berdampak langsung pada kondisi fisik. Aktivitas yang dominan hanya melibatkan jari dan mata membuat tubuh kurang terstimulasi untuk bergerak. Jika berlangsung terus-menerus, otot-otot tubuh jarang digunakan dan dapat memunculkan keluhan seperti sakit mata, pusing, nyeri leher, pundak, hingga punggung.

Ia juga menyoroti meningkatnya keluhan fisik pada remaja, mulai dari tubuh kaku hingga gangguan saraf terjepit. Fitri turut menyebut adanya risiko serius seperti stroke yang mulai ditemukan pada usia muda.

Dari sisi psikologis, Fitri menilai penggunaan gadget dapat memicu gangguan akibat paparan stimulus berlebihan atau overstimulation. Menurutnya, konten cepat dan berulang di media sosial dapat menimbulkan stres, menurunkan fokus, serta mengganggu kemampuan regulasi emosi. “Sering kali kita merasa tidak semangat meskipun sedang melihat hiburan. Itu tanda kita sudah kelebihan stimulus,” katanya.

Fitri menambahkan, kondisi tersebut dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi gejala depresi dan kecemasan apabila tidak ditangani dengan baik.

Selain itu, paparan cahaya biru (blue light) dari layar gadget disebut dapat memengaruhi ritme sirkadian atau jam biologis tubuh, sehingga berisiko menimbulkan gangguan tidur. Dampaknya, kemampuan otak dalam menyimpan informasi ikut terganggu. “Kalau kurang tidur, kita jadi mudah lupa karena proses penyimpanan informasi di otak terganggu,” ungkap Fitri.

Fitri juga menekankan pengaruh jenis konten yang dikonsumsi. Konten berdurasi singkat dan cepat dinilai dapat menurunkan rentang konsentrasi. Ia menyebut temuan penelitian pada masa pandemi yang menggambarkan rentang konsentrasi bisa lebih rendah dibandingkan ikan koi.

Di sisi lain, ia menilai paparan konten kekerasan dan seksual juga berbahaya. Fitri menyampaikan kebiasaan bermain gim dengan unsur kekerasan dapat memicu perilaku agresif di dunia nyata karena otak terbiasa dengan pola tersebut. Ia turut mengungkap adanya kasus anak yang terdorong melakukan tindakan kekerasan terhadap hewan akibat paparan konten serupa.

Terkait konten seksual, Fitri menyebut risiko kekerasan berbasis gender online dapat meningkat, termasuk kasus remaja yang terjerat ancaman penyebaran konten pribadi hingga berujung pada kehamilan di usia dini. “Anak-anak berada di dunia yang belum waktunya mereka jalani. Mereka tidak tahu risiko dan bahaya yang mengintai,” tegasnya.

Melalui kegiatan tersebut, Fitri mengajak masyarakat, khususnya orang tua dan remaja, untuk lebih bijak dalam menggunakan gadget, baik dari segi durasi maupun jenis konten yang diakses. “Sebelum semuanya terlambat, mari kita mulai mengurangi penggunaan gadget dan kembali ke aktivitas yang lebih sehat,” pungkasnya.