Jakarta—Psikolog anak dan keluarga Fitri Andriyani mengingatkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan fisik dan mental, terutama pada anak dan remaja. Ia menilai, durasi penggunaan yang panjang serta paparan konten tertentu berpotensi menimbulkan masalah yang dapat berlanjut jika tidak diantisipasi.
Peringatan tersebut disampaikan Fitri dalam kegiatan Kelas Digital Sahabat Tunas yang digelar di Selah Hall, Kota Bandung, Selasa (14/4/2026). Dalam pemaparannya, ia menyoroti kecenderungan manusia yang kini menghabiskan banyak waktu di dunia digital. Dari total 24 jam sehari, menurutnya, banyak individu menggunakan gadget lebih dari separuh waktu.
“Artinya, kita lebih banyak hidup di ruang yang sebenarnya tidak kita kenal secara nyata,” ujar Fitri.
Fitri menjelaskan, penggunaan gadget dalam durasi panjang berdampak langsung pada kondisi fisik. Aktivitas yang lebih banyak melibatkan jari dan mata membuat tubuh kurang terstimulasi untuk bergerak. Jika berlangsung terus-menerus, otot-otot tubuh dinilai menjadi kurang terpakai dan memunculkan keluhan seperti sakit mata, pusing, nyeri leher, pundak, hingga punggung.
Ia juga menyoroti meningkatnya keluhan fisik pada remaja, mulai dari tubuh yang kaku hingga gangguan saraf terjepit. Fitri turut menyebut adanya risiko serius seperti stroke yang mulai ditemukan pada usia muda.
Dari sisi psikologis, ia menilai penggunaan gadget dapat memicu gangguan akibat paparan stimulus berlebihan (overstimulation). Konten cepat dan berulang di media sosial, menurutnya, dapat menimbulkan stres, menurunkan fokus, serta mengganggu kemampuan regulasi emosi.
“Sering kali kita merasa tidak semangat meskipun sedang melihat hiburan. Itu tanda kita sudah kelebihan stimulus,” katanya.
Fitri menambahkan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gejala depresi dan kecemasan apabila tidak ditangani dengan baik. Selain itu, paparan cahaya biru (blue light) dari layar gadget disebut dapat memengaruhi ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Dampaknya berupa gangguan tidur yang berpengaruh pada kemampuan otak dalam menyimpan informasi.
“Kalau kurang tidur, kita jadi mudah lupa karena proses penyimpanan informasi di otak terganggu,” ungkapnya.
Fitri juga menyoroti pengaruh jenis konten yang dikonsumsi anak dan remaja. Konten berdurasi singkat dan cepat dinilainya dapat menurunkan rentang konsentrasi. Ia menyebut, berdasarkan penelitian pada masa pandemi, rentang konsentrasi tersebut bahkan disebut lebih rendah dibandingkan ikan koi.
Ia turut mengingatkan bahaya paparan konten kekerasan dan seksual. Menurut Fitri, kebiasaan bermain gim dengan unsur kekerasan dapat memicu perilaku agresif di dunia nyata karena otak terbiasa dengan pola tersebut. Ia juga mengungkap adanya kasus anak yang terdorong melakukan tindakan kekerasan terhadap hewan akibat paparan konten serupa.
Adapun terkait konten seksual, Fitri menilai paparan di dunia digital meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender online. Ia menyebut, banyak kasus remaja terjerat ancaman penyebaran konten pribadi hingga berujung pada kehamilan di usia dini.
“Anak-anak berada di dunia yang belum waktunya mereka jalani. Mereka tidak tahu risiko dan bahaya yang mengintai,” tegasnya.
Melalui kegiatan tersebut, Fitri mengajak masyarakat—terutama orang tua dan remaja—untuk lebih bijak menggunakan gadget, baik dari sisi durasi maupun jenis konten yang diakses.
“Sebelum semuanya terlambat, mari kita mulai mengurangi penggunaan gadget dan kembali ke aktivitas yang lebih sehat,” pungkasnya.