Jakarta — Kebiasaan anak bermain gadget dalam waktu lama, termasuk memainkan gim populer seperti Roblox, dapat membentuk pola ketergantungan tanpa disadari. Kondisi ini kerap memicu tantrum ketika orang tua melarang atau mengambil gadget dari anak.
Psikolog anak Jovita Ferliana menjelaskan, saat anak terlalu sering bermain gim, otak anak mulai mengasosiasikan gim sebagai sumber utama kesenangan. Ketika akses itu dihentikan, anak dapat merasa kehilangan “sumber bahagia” sehingga bereaksi dengan menangis, marah, atau menolak.
“Nggak mungkin nggak tantrum karena dia merasa bahwa ini (gim atau gadget) adalah sumber kebahagiaannya, ini sumber kesenangannya, tapi kenapa diambil? Istilahnya kayak gitu,” ujar Jovita saat ditemui di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.
Menurut Jovita, tantrum dalam situasi ini bukan semata-mata perilaku manja, melainkan respons alami anak ketika sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan tiba-tiba dihentikan. Karena itu, ia mengingatkan orang tua agar tidak langsung menyerah saat menghadapi tantrum.
Ia menekankan konsistensi sebagai kunci. Jika orang tua luluh setiap kali anak menangis atau marah saat dipisahkan dari gadget, anak dapat belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan kembali apa yang diinginkan.
“Sekali kita tarik, jangan karena dia merengek tantrum terus kita kasih. Nanti lain kali anak akan belajar bahwa oh caranya aku mau sesuatu kayak gini aja lah. Jadi jangan termakan sama itu. Tetap konsisten,” kata Jovita.
Aktivitas pengganti
Selain konsisten, Jovita menyarankan orang tua menerapkan konsep replacement atau penggantian. Artinya, gadget tidak hanya dilarang, tetapi diganti dengan aktivitas lain yang tetap menyenangkan dan lebih bermanfaat.
“Ganti si Roblox ini dengan permainan yang lain. Permainan yang tentunya bisa lebih menghasilkan dan bermanfaat daripada Roblox,” jelasnya.
Jovita menilai, apabila sebelumnya gadget berperan sebagai “pengasuh instan”, maka peran tersebut perlu diambil alih oleh orang tua atau orang dewasa di sekitar anak. Bentuk aktivitas pengganti dapat disesuaikan dengan usia dan minat anak.
Untuk anak usia sekolah dasar hingga remaja, ia menyebut permainan yang melibatkan kompetisi dan interaksi sosial seperti olahraga bisa menjadi pilihan, misalnya basket, sepak bola, bulu tangkis, atau aktivitas fisik lain yang menantang. Sementara untuk anak yang lebih kecil, orang tua dapat menghadirkan permainan sederhana di rumah yang menstimulasi perkembangan, mulai dari permainan motorik, sensorik, hingga aktivitas kreatif yang melibatkan gerak dan eksplorasi.
Jovita juga menyinggung bahwa tantrum dapat berlangsung dalam rentang waktu tertentu ketika kebiasaan bermain gadget dihentikan mendadak. Karena itu, ia menilai penting bagi orang tua untuk bertahan dan memastikan ada pengganti yang setara bagi anak.
“Anak tantrum itu biasa 2 minggu. Kalau tiba-tiba ditarikin Roblox-nya, bertahan aja gak usah dikasih selama 2 minggu, tapi diganti. Akan menjadi gak fair buat anak kalau kebahagiannya tiba-tiba ditarik dan tidak ada penggantinya,” pungkas Jovita.