Proposal riset dari Indonesia menjadi salah satu proyek yang meraih pendanaan Food for Tomorrow 2026. Inovasi yang diajukan berjudul Proyek LIFE, yang berfokus pada transformasi pertanian melalui sistem tumpang sari jagung dan sacha inchi atau biji kacang bintang, yang diyakini sebagai superfood karena kaya Omega 3, 6, dan 9.
Proyek ini digagas peneliti Indonesia, Al Greeny S. Dewayanti, dengan pendekatan berbasis teknologi dan pengetahuan. Riset tersebut mengombinasikan tumpang sari sacha inchi, analisis DNA tanah, serta pengembangan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk diterapkan pada lahan pertanian yang terdegradasi. Tujuannya adalah mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan taraf hidup petani.
Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com pada Rabu, 9 April 2026, disebutkan pendekatan yang tengah diuji itu diarahkan untuk melihat bagaimana proses tersebut dapat menjawab isu malnutrisi serta memulihkan kualitas tanah yang menurun. Sampel tanah yang telah dikumpulkan kemudian diproses melalui metode metabarcoding DNA untuk menganalisis mikroba tanah, melalui kolaborasi dengan ilmuwan di GSI Lab dan Genomics Hub guna memahami kondisi kesehatan lahan.
Temuan dari analisis mikroba tersebut digunakan untuk mengembangkan aplikasi berbasis AI yang dapat menilai kualitas tanah berdasarkan mikroorganisme yang terdeteksi. Dengan cara ini, petani diharapkan dapat memahami kondisi di bawah permukaan tanah, termasuk mikroba yang menguntungkan maupun yang membahayakan, serta tindakan yang diperlukan.
“Bagi banyak petani, kesehatan tanah tidak dapat terlihat. Tujuan kami adalah membuat sains mudah diakses sehingga petani dapat memahami apa yang terjadi di dalam tanah dan mengambil tindakan yang meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan,” ujar Greeny, yang juga menjabat sebagai Chief Partnership Officer di BenihBaik dan penjelajah National Geographic.
Riset lapangan Proyek LIFE disebut akan diuji coba di kawasan Labuan Bajo. Dengan mengintegrasikan kearifan lokal, pengetahuan modern, dan teknologi digital, proyek ini menawarkan model untuk merestorasi lahan terdegradasi, memperluas akses terhadap makanan bernutrisi, serta mendorong pendapatan yang lebih stabil bagi keluarga petani. Proyek ini juga menempatkan pemberdayaan perempuan sebagai bagian dari upaya menggerakkan inovasi pertanian di wilayah-wilayah yang dinilai paling berisiko di Indonesia. Tanaman ragam panen (multi crops) yang diproduksi diprediksi dapat memenuhi kebutuhan 80 persen keluarga di kawasan Labuan Bajo.
Dalam pelaksanaannya, Greeny melibatkan lima kelompok tani serta 50 perempuan yang mengelola koperasi. Mereka turut dilibatkan untuk mempelajari proses pengolahan kacang sacha inchi menjadi produk bernilai tambah, seperti minyak. Penelitian lapangan ini direncanakan berjalan hingga dua tahun ke depan.
Food for Tomorrow merupakan program kolaborasi National Geographic Society dan PepsiCo yang bertujuan memanfaatkan pengetahuan, komunikasi, dan edukasi untuk menginspirasi perubahan positif dalam sistem pangan global, dengan fokus pada pertanian regeneratif. Proyek LIFE menjadi satu dari lima riset pertanian yang mendapatkan pendanaan tersebut.
Chief science and innovation officer National Geographic Society, Ian Miller, menyatakan pertanian regeneratif berkaitan dengan berbagai isu jangka panjang, mulai dari perlindungan ekosistem air tawar dan pesisir, pemulihan lanskap untuk mendukung keanekaragaman hayati, pengurangan jejak karbon, hingga pengamanan cadangan karbon yang tidak dapat dipulihkan.
Selama dua tahun ke depan, para penerima dana akan melakukan penelitian di lapangan dengan target menemukan solusi yang dapat membantu meningkatkan skala praktik pertanian regeneratif yang disesuaikan. Sistem tanaman yang menjadi sasaran meliputi gandum, jagung, kentang, kedelai, dan kopi.
Selain proyek dari Indonesia, empat penerima dana lainnya adalah Dr. Ahan Dalal di Spanyol yang akan menguji praktik regeneratif seperti biochar, tanaman penutup tanah, dan mikroba bermanfaat pada skenario penyiraman normal serta kekeringan; Dr. Hewan Degu di Ethiopia yang membangun basis bukti mikroba untuk sistem tumpang sari kopi dan kentang; Omar de Kok-Mercado di Wisconsin, Amerika Serikat, yang membangun koridor keanekaragaman hayati melalui penanaman padang rumput asli; serta Dr. Jamie Spychalla di Wisconsin yang meneliti integrasi alfalfa pengikat nitrogen sebagai tanaman penutup yang dapat dipanen dan ditanam secara bergilir untuk membantu regenerasi tanah dan meningkatkan hasil panen.