Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) resmi menutup rangkaian program akselerator Startup Studio Indonesia (SSI) Batch 6. Penutupan ini menjadi penanda akhir masa pendampingan selama empat bulan bagi 17 startup finalis yang dibina untuk mencapai product-market fit (PMF).
Dalam penutupan program, para finalis mendapat kesempatan mempresentasikan bisnis serta capaian mereka kepada para pemangku kepentingan, termasuk lembaga pemerintah dan venture capital. Momentum ini sekaligus menjadi pintu bagi para startup untuk menguji kesiapan mereka bersaing di pasar.
SSI merupakan program tahunan Kemenkominfo yang diluncurkan sejak 2020 untuk mendampingi dan melatih startup tahap awal dalam perjalanan menuju PMF. Berdasarkan data SSI, program ini telah meluluskan total 80 alumni dari lima batch sebelumnya. Para alumni disebut berhasil mengembangkan bisnis, mulai dari meraih pendanaan, mendapatkan investor baru, hingga memperluas jangkauan operasional.
SSI juga mencatat persentase alumni yang memperoleh pendanaan tahap awal setelah lulus berada pada kisaran 13–40 persen di setiap batch. Hingga Desember 2022, total pendanaan yang mengalir ke alumni SSI dilaporkan mencapai Rp 392,1 miliar.
Koordinator Startup Digital Kemenkominfo, Sonny Hendra Sudaryana, mengatakan Indonesia kerap dikenal sebagai salah satu pusat startup digital di Asia Tenggara, seiring banyaknya startup yang bermunculan setiap tahun. Menurutnya, kondisi tersebut mendorong Kemenkominfo untuk terus mendampingi para pendiri startup dalam mengembangkan bisnis, sekaligus membangun ekosistem digital agar terjadi transfer pengetahuan dan pengalaman, termasuk dalam menghadapi situasi tech winter.
Sonny menyebut SSI menjadi wadah bagi para founder tahap awal untuk belajar dan berdiskusi langsung dengan mentor berpengalaman dari startup ternama. Ia juga menambahkan, pendampingan tidak berhenti setelah kelulusan. Para alumni masih akan dipantau melalui Program Alumni, termasuk melalui sesi coaching tambahan dan pertemuan rutin.
Pendampingan lanjutan tersebut ditujukan untuk memperkuat aspek bisnis dan fundamental startup yang dinilai masih berada pada tahap awal, sehingga diharapkan mampu bertahan, mencapai profit, atau setidaknya tetap beroperasi di tengah isu penutupan sejumlah startup dalam beberapa waktu terakhir.
Adapun 17 alumni SSI Batch 6 berasal dari berbagai sektor. Mereka adalah MODA (properti dan konstruksi berbasis teknologi), Assemblr (platform ekosistem augmented reality), AYO Indonesia (aplikasi komunitas sepak bola), Baskit (SaaS untuk toko grosir dan distributor), DEUS Human Capital Services (platform manajemen personalia/HR dengan gamifikasi), Inventing (layanan printing digital), Lakuliner (aggregator cloud kitchen untuk brand F&B), Looyal (aplikasi manajemen bisnis untuk usaha online dan offline), Medi-Call (layanan kesehatan on-demand di rumah), OneKlinik (jasa kesehatan dasar berbasis teknologi), Pajak.io (platform solusi perpajakan), Payable (platform all-in-one checkout), Rooma (jasa dan produk desain interior), SMEs Pack (aggregator ekspor untuk UMKM), Tweak (platform fitness on-demand), Tokban (marketplace toko bahan bangunan), serta RASA—sebelumnya Warjali—(platform penyedia bahan baku, informasi, dan pendanaan bagi UMKM, warung, dan petani).
Seiring lanskap startup di Indonesia yang semakin dinamis, Co-Founder startup Praktis, Adrian Gilrandy, menilai terdapat sejumlah hal yang dapat dilakukan untuk memperbesar peluang pertumbuhan. Namun, rincian langkah-langkah tersebut tidak dijabarkan lebih lanjut dalam keterangan yang disampaikan.