BERITA TERKINI
Profiling Tenaga Kerja Berbasis Data Mengubah Cara Perusahaan Menilai Kandidat

Profiling Tenaga Kerja Berbasis Data Mengubah Cara Perusahaan Menilai Kandidat

Dunia kerja disebut tengah mengalami perubahan cepat seiring meningkatnya penggunaan data dalam proses rekrutmen dan pengelolaan sumber daya manusia. Jika sebelumnya penilaian kandidat banyak bertumpu pada CV, wawancara, dan rekomendasi, kini perusahaan dinilai semakin mengandalkan jejak digital serta analisis berbasis data untuk memetakan kecocokan seseorang dengan posisi tertentu.

Ketua Program Studi Sains Data Universitas Nusa Mandiri (UNM), Tati Mardiana, menjelaskan bahwa praktik ini dikenal sebagai profiling tenaga kerja. Menurutnya, perusahaan mengumpulkan dan menganalisis beragam informasi, mulai dari latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, hasil tes, hingga pola produktivitas serta aktivitas profesional di ruang digital. Data tersebut kemudian diolah untuk menjawab kebutuhan utama perusahaan: menentukan kandidat yang paling tepat untuk sebuah peran.

Dalam pandangannya, pendekatan berbasis data dapat membuat rekrutmen lebih cepat, terukur, dan berpotensi lebih objektif. Perusahaan dapat memetakan kompetensi secara lebih presisi, sementara individu dinilai memiliki peluang lebih besar untuk ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan potensi dan minat.

Namun, ia juga mengingatkan adanya risiko yang menyertai penggunaan data dalam pengambilan keputusan karier. Data dinilai tidak selalu netral karena bisa mengandung bias, tidak lengkap, atau menyesatkan apabila dikelola tanpa tata kelola yang baik. Ketika keputusan karier dipengaruhi algoritma, kualitas data, transparansi, dan etika pemanfaatannya menjadi faktor krusial. Tanpa perlindungan privasi yang memadai, profiling justru berpotensi memunculkan ketidakadilan baru.

Perubahan ini, lanjutnya, menuntut kesiapan individu. Penilaian tidak lagi hanya didasarkan pada apa yang tercantum dalam CV, melainkan juga pada bagaimana seseorang membangun jejak digitalnya. Aktivitas profesional di platform digital, portofolio daring, hingga cara berinteraksi di ruang publik digital disebut dapat menjadi bagian dari penilaian.

Konsekuensinya, kompetensi yang dibutuhkan ikut berkembang. Selain keterampilan teknis, individu perlu memahami cara kerja data, bagaimana informasi tentang dirinya dapat dibaca, serta bagaimana membangun citra profesional yang kredibel. Kondisi ini membuat dunia kerja dinilai semakin transparan sekaligus semakin kompetitif.

Tati menilai Sains Data memiliki peran penting dalam konteks tersebut. Disiplin ini tidak hanya berkaitan dengan pengolahan data, tetapi juga penafsiran dan pemanfaatannya untuk pengambilan keputusan yang tepat. Dalam ranah SDM, Sains Data disebut menjadi fondasi bagi sistem rekrutmen cerdas, analisis kinerja yang lebih objektif, serta strategi pengembangan talenta yang berkelanjutan.

Ia menyebut Universitas Nusa Mandiri berupaya merespons kebutuhan tersebut melalui Program Studi Sains Data, dengan membekali mahasiswa kemampuan teknis seperti analitik dan pemrograman, serta pemahaman etika digital dan tanggung jawab penggunaan data. Menurutnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membaca data, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam menggunakannya.

Pada akhirnya, profiling tenaga kerja di era digital dinilai sebagai keniscayaan. Praktik ini dapat menjadi peluang untuk menciptakan sistem kerja yang lebih efisien dan adil, namun juga berisiko apabila disalahgunakan. Tantangannya, kata dia, adalah memastikan individu dan organisasi mampu memahami serta mengelola data secara bertanggung jawab.