BERITA TERKINI
Prof. Franz Magnis Suseno Bahas Filsafat Ilmu dan Etika Teknologi dalam Kuliah Umum di UGM

Prof. Franz Magnis Suseno Bahas Filsafat Ilmu dan Etika Teknologi dalam Kuliah Umum di UGM

Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar kuliah umum bertajuk Filsafat Ilmu dan Etika Teknologi yang menghadirkan Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ, sebagai narasumber. Acara ini berlangsung pada Selasa (15/8) di Ruang Sidang E.6, Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik UGM, dengan peserta dari kalangan mahasiswa pascasarjana dan dosen di lingkungan UGM.

Materi Kuliah Umum: Filsafat Ilmu dan Etika Teknologi

Dalam kuliahnya, Magnis membagi materi menjadi tiga bagian utama. Pertama, ia menyampaikan beberapa catatan mengenai filsafat ilmu pengetahuan. Kedua, ia membahas latar belakang rasionalitas yang melahirkan teknologi modern. Ketiga, ia menyoroti etika tanggung jawab sebagai inti dari etika teknologi.

Magnis menjelaskan bahwa filsafat ilmu pengetahuan merupakan bagian dari filsafat pengetahuan atau epistemologi. Ia menambahkan bahwa filsafat pengetahuan berkembang pesat seiring dengan modernitas. Dua tahap epistemologi yang memiliki pengaruh besar hingga saat ini adalah masa pencerahan dan filsafat analitik pada abad ke-20.

Tiga Tokoh Masa Pencerahan

Magnis menyebutkan tiga tokoh penting pada masa pencerahan yang berperan dalam perkembangan pemikiran ilmiah. Tokoh pertama adalah Francis Bacon, yang dianggap sebagai bapak teknologi modern. Bacon meyakini bahwa dengan memahami hukum alam, manusia dapat menguasai alam secara lebih efektif.

Tokoh kedua adalah David Hume, yang dikenal sebagai bapak empirisme. Menurut Magnis, empirisme adalah keyakinan bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui pengalaman inderawi, bukan semata dari pemikiran. Hume juga menolak dua cabang filsafat tradisional, yaitu etika dan metafisika.

Tokoh ketiga adalah Immanuel Kant, yang memiliki pandangan berbeda dari Bacon dan Hume. Kant berpendapat bahwa pengetahuan manusia bermula dari pengalaman inderawi yang kemudian diolah oleh nalar. Selain itu, manusia juga memiliki pengertian intuitif non-inderawi.

Etika dalam Pengembangan Teknologi

Dalam bagian akhir kuliahnya, Magnis menekankan bahwa pengembangan teknologi harus memenuhi dua syarat agar dianggap etis dan dapat dipertanggungjawabkan. Syarat pertama adalah bahwa pengembangan teknologi harus dapat dibenarkan dari segi akibat-akibatnya, yakni mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan.

Syarat kedua adalah pengembangan teknologi harus sesuai dengan martabat manusia yang bersangkutan. Hal ini berarti teknologi tidak boleh melanggar hak asasi manusia maupun hak-hak pihak ketiga.

"Pengembangan teknologi harus tidak bertentangan dengan hak asasi manusia dan tidak melanggar hak-hak pihak ketiga," ujar Magnis menutup materinya.