Presiden Prabowo Subianto meminta perguruan tinggi berperan sebagai tulang punggung dalam menghasilkan pemikiran strategis serta berkontribusi melalui riset dan inovasi di berbagai sektor. Arahan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto usai memimpin upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di lapangan Kemdikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2026).
Brian mengatakan, permintaan itu berangkat dari kebutuhan Indonesia memperkuat kemandirian nasional di tengah dinamika global yang dinilai tidak menentu, termasuk ketegangan di Selat Hormuz. Menurutnya, ketergantungan pada negara lain dapat menimbulkan kerentanan saat terjadi gangguan geopolitik yang berdampak pada kenaikan harga dan melemahnya ketahanan nasional.
"Kita tahu bahwa dengan berbagai gejolak atau berbagai permasalahan ya, situasi dunia yang ada, itu ketergantungan pada negara lain itu terbukti bukan sesuatu yang menguntungkan. Kita harus memiliki kemandirian. Karena begitu ada gejolak, kita lihat kasus Selat Hormuz, harga menjadi naik, maka ketahanan bangsa kita tidak terlalu kuat. Ketergantungan kita masih di sana," ujar Brian.
Ia menambahkan, arahan Presiden menekankan agar kampus menjadi tumpuan kontribusi berbasis riset dan inovasi untuk mendukung seluruh sektor. "Ini yang diminta oleh Pak Presiden sehingga seluruh sektor--kampus diharapkan menjadi tulang punggung untuk pemikiran-pemikiran, kontribusi-kontribusi yang sifatnya riset dan inovasi, untuk seluruh sektor," katanya.
Dalam konteks tersebut, Brian juga menyinggung dampak konflik Iran-Israel-AS yang memicu Iran memblokade jalur pasokan minyak dunia dan komoditas penting di Selat Hormuz. Situasi itu disebut berdampak pada stabilitas energi dan aktivitas ekonomi di negara-negara global.
Selain memperkuat kemandirian, Brian menyampaikan pesan Presiden Prabowo agar penelitian dan kegiatan akademik di perguruan tinggi sejalan dengan prioritas nasional. Ia mengatakan, arah riset dan inovasi diharapkan menghasilkan karya yang relevan dengan kebutuhan bangsa, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
"Penelitian-penelitian dan kegiatan-kegiatan akademik kampus haris sejalan dan mendukung program prioritas nasional. Jadi apa artinya? Adalah kita berharap SDM-SDM yang nanti dilahirkan Itu memang sesuai dengan kebutuhan yang ada di bangsa kita," ujar Brian.
Ia menekankan pemerintah tidak menginginkan penelitian yang tidak berkaitan dengan kebutuhan aktual. "Apa-apa yang dilakukan penelitian, apa-apa yang diteliti dan didorong inovasinya dari berbagai program penelitian, program inovasi, itu justru diharapkan juga dalam rangka menghasilkan karya-karya yang memang dibutuhkan oleh bangsa kita. Jadi kita tidak ingin nanti penelitian-penelitian kita bukan sesuatu yang sedang tidak dibutuhkan," katanya.
Meski demikian, Brian menegaskan penelitian dasar tetap menjadi bagian penting dalam penguatan riset dan inovasi. Menurutnya, penelitian fundamental merupakan fondasi bagi lahirnya inovasi yang berkualitas.
"Nah tentu itu membutuhkan juga penelitian-penelitian dasar yang kuat. Jadi bukan berarti penelitian-penelitian inovasi yang menjawab permasalahan bangsa, menjawab permasalahan masyarakat sekitar. Itu kemudian kita tidak meninggalkan penelitian dasar, itu tidak. Justru saling memperkuat, karena saya yakin sekali bahwa penelitian dasar yang kuat, fundamental missions yang kuat, itu menjadi fondasi bagi lahirkan inovasi-inovasi yang berkualitas," ujar Brian.
Brian menyebut seluruh agenda riset tetap dijalankan dengan pembagian porsi agar hasil penelitian relevan. "Jadi semua itu tetap kita jalankan, hanya kita bagi porsinya. Jadi tadi arahan Pak Presiden adalah sehingga hasil-hasil riset itu relevan," katanya.