BERITA TERKINI
Politeknik Negeri Padang Kukuhkan Dua Guru Besar Baru, Total Profesor Menjadi Empat

Politeknik Negeri Padang Kukuhkan Dua Guru Besar Baru, Total Profesor Menjadi Empat

PADANG—Politeknik Negeri Padang (PNP) mengukuhkan dua guru besar baru dalam sebuah prosesi akademik yang digelar di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Kamis (30/4/2026). Pengukuhan ini disebut menjadi penanda penguatan kapasitas riset terapan di lingkungan pendidikan vokasi, sekaligus kontribusi yang lebih nyata bagi industri dan masyarakat.

Dua akademisi yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Sir Anderson sebagai Guru Besar bidang Ilmu Material Teknik dari Jurusan Teknik Mesin, serta Prof. Dr. Primadona sebagai Guru Besar bidang Kepakaran Kewirausahaan untuk UMKM dari Jurusan Administrasi Niaga.

Dengan pengukuhan tersebut, jumlah guru besar di PNP kini menjadi empat orang. Sebelumnya, PNP telah mengukuhkan Prof. Dr. Dra. Yuli Yetri pada April 2021 di bidang Ilmu Kimia Material dan Prof. Dr. Emrizal pada November 2024 di bidang Digital Entrepreneurship.

Direktur PNP Revalin Herdianto mengatakan bertambahnya jumlah guru besar menjadi indikator penting bagi kematangan ekosistem akademik di perguruan tinggi vokasi. Menurutnya, capaian guru besar merupakan hasil proses panjang melalui penelitian berkelanjutan, pengabdian kepada masyarakat, serta publikasi ilmiah yang berdampak.

“Menjadi guru besar bukan hal mudah. Ada perjalanan panjang yang harus dilalui. Karena itu, ini bukan sekadar gelar formal, melainkan pengakuan atas kepakaran sekaligus kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat,” kata Revalin usai acara.

Ia menekankan pengukuhan guru besar tidak semata seremoni, melainkan bentuk penghargaan atas dedikasi akademisi dalam membangun keilmuan dan memberi manfaat luas. Revalin juga menyebut sekitar 12 persen dosen PNP telah bergelar doktor. Ia berharap capaian ini memicu dosen lain untuk terus berkembang hingga mencapai jabatan akademik tertinggi.

“Guru besar adalah mentor, penggerak riset, sekaligus teladan. Semakin banyak profesor, semakin kuat pula daya saing akademik kampus vokasi,” ujarnya.

Orasi ilmiah Primadona: digitalisasi dan modal sosial

Dalam orasi ilmiahnya berjudul “Social Capital Etnis Minangkabau dalam Transformasi Kewirausahaan pada UMKM di Era Digital”, Prof. Dr. Primadona menyoroti peran modal sosial dalam menghadapi disrupsi digital. Ia menilai transformasi digital tidak hanya mengubah instrumen ekonomi, tetapi juga cara membangun relasi, kepercayaan, dan nilai dalam aktivitas ekonomi.

Primadona menyampaikan ekonomi digital berbasis platform menciptakan konektivitas tanpa batas dan mempercepat inovasi. Namun, ia menekankan proses digitalisasi tidak berlangsung netral karena keberhasilannya dipengaruhi kapasitas sosial, struktur kelembagaan, dan budaya yang melingkupi pelaku usaha.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (2025), ia menyebut UMKM di Indonesia mencapai lebih dari 65 juta unit usaha, menyumbang sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Meski dominan secara jumlah, banyak UMKM masih menghadapi keterbatasan produktivitas, akses pembiayaan, teknologi, dan jaringan pasar.

Primadona juga mengutip temuan global bahwa digitalisasi dapat meningkatkan produktivitas hingga 25–30 persen jika didukung kesiapan sumber daya manusia dan jaringan sosial yang kuat. Tanpa dukungan itu, digitalisasi dinilai berpotensi memperlebar ketimpangan.

Dalam konteks tersebut, ia menekankan konsep social capital sebagai faktor kunci keberhasilan transformasi UMKM. Menurutnya, digitalisasi turut mengubah struktur modal sosial dari yang semula berbasis komunitas lokal menjadi jaringan yang lebih luas dan virtual.

Ia menempatkan budaya Minangkabau sebagai kekuatan strategis. Tradisi merantau, kata Primadona, bukan sekadar mobilitas geografis, melainkan strategi ekonomi yang membentuk jaringan bisnis berbasis kepercayaan dan solidaritas. “Dalam perspektif kewirausahaan modern, merantau adalah bentuk ekspansi pasar dan diversifikasi risiko. Ini adalah kekuatan modal sosial yang relevan di era digital,” ujarnya.

Orasi ilmiah Sir Anderson: riset material implan

Sementara itu, Prof. Dr. Sir Anderson menyampaikan orasi berjudul “Perilaku Korosi dan Potensi Pelepasan Ion Logam Paduan Titanium dalam Cairan Simulasi Tubuh (Larutan Hanks)”. Ia memaparkan hasil penelitian intensif yang dilakukan selama enam tahun terakhir terkait keamanan biomaterial untuk implan.

Sir Anderson menjelaskan material logam seperti stainless steel 316L masih banyak digunakan pada implan ortopedi karena biaya relatif murah dan kemudahan manufaktur. Namun, ia menyebut material tersebut memiliki kelemahan, terutama kandungan nikel yang dapat terionisasi dan memicu reaksi alergi, toksisitas, serta risiko kesehatan lainnya.

Menurutnya, korosi menjadi faktor krusial dalam menentukan keberhasilan suatu implan. Selain menurunkan kekuatan mekanis, korosi dapat menyebabkan pelepasan ion logam ke dalam tubuh yang berpotensi membahayakan.

Ia menyoroti penggunaan titanium, khususnya paduan tipe beta (TNTZ), sebagai alternatif karena memiliki ketahanan korosi lebih baik, kekuatan tinggi, dan biokompatibilitas yang unggul. Penelitiannya berfokus pada analisis korosi dalam cairan simulasi tubuh yang mendekati kondisi nyata, yakni larutan Hanks.

Sir Anderson menilai studi sebelumnya masih terbatas pada pendekatan kualitatif sehingga belum mampu menjelaskan secara komprehensif jenis korosi, laju korosi, dan jumlah pelepasan ion logam. “Pemahaman menyeluruh terhadap karakteristik korosi sangat penting untuk meningkatkan keamanan biomaterial. Tidak hanya ketahanannya, tetapi juga jenis korosi dan jumlah ion yang dilepaskan harus dapat dikontrol,” katanya.

Ia juga menyinggung pengembangan metode peningkatan ketahanan material, termasuk anodisasi dan perlakuan termomekanik, untuk menghasilkan implan yang lebih aman dan tahan lama.

Penguatan peran pendidikan vokasi

Pengukuhan dua guru besar ini mempertegas posisi PNP sebagai institusi pendidikan vokasi yang tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga pengembangan riset terapan yang relevan dengan kebutuhan industri. PNP menyatakan optimistis penambahan jajaran profesor akan memperkuat kontribusi kampus dalam menghasilkan inovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memberi solusi bagi tantangan ekonomi dan teknologi ke depan.