Fenomena “phubbing” atau kebiasaan mengabaikan orang di sekitar karena terlalu fokus pada gadget menjadi perhatian serius di lingkungan pendidikan dan masyarakat. Isu ini dibahas dalam program dialog “Literasi Digital” di RRI Pro 1 Pontianak, Selasa (28/4/2026), yang menghadirkan tokoh publik Kalimantan Barat sekaligus Bupati Pertama Kabupaten Kubu Raya, Muda Mahendrawan, serta anggota Dewan Pendidikan Provinsi Kalbar, Yusida.
Dalam dialog yang dipandu Budiman Taher, Yusida menjelaskan phubbing sebagai perilaku penggunaan gadget yang berlebihan hingga seseorang kehilangan kontrol diri dan mengganggu interaksi sosial. Menurutnya, sikap terlalu asyik dengan telepon genggam dapat membuat orang di sekitar merasa diabaikan, memunculkan kekecewaan, dan merusak hubungan sosial.
Yusida menambahkan, dampak phubbing juga menyentuh ranah pendidikan. Anak yang terlalu bergantung pada gadget dinilai berisiko mengalami kesulitan berkonsentrasi, penurunan kreativitas, dan penurunan prestasi belajar. Waktu yang semestinya digunakan untuk belajar, kata dia, dapat habis untuk aktivitas yang tidak produktif.
Sementara itu, Muda Mahendrawan menilai phubbing sebagai tanda awal yang patut diwaspadai karena dapat menjadi gerbang menuju kecanduan gadget yang lebih serius. Ia mengatakan, ketika seseorang mulai mengabaikan orang sekitar, hal itu dapat menjadi sinyal menurunnya empati, rusaknya relasi, hingga memicu konflik dalam keluarga.
Muda juga menyoroti dampak lebih luas dari penggunaan gadget yang tidak terkontrol, termasuk paparan konten negatif dan kemungkinan perubahan perilaku yang ekstrem. Ia mengingatkan pentingnya kemampuan mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya, agar generasi muda tidak kehilangan daya juang dan kemampuan berpikir kritis.
Dalam konteks keluarga, kedua narasumber menekankan peran orang tua sebagai kunci. Yusida menilai keteladanan menjadi langkah awal, dengan mengingatkan agar orang tua tidak melarang anak menggunakan gadget sementara mereka sendiri terus sibuk dengan perangkatnya. Menurutnya, pengendalian diri harus dimulai dari orang tua.
Ia juga menyarankan adanya aturan yang jelas terkait durasi penggunaan gadget. Yusida mencontohkan pembatasan waktu 15–30 menit dan menekankan bahwa orang tua perlu menetapkan aturan, bukan anak yang menawar. Ia mengingatkan agar orang tua tidak lengah terhadap dampak jangka panjang, karena kesibukan mencari nafkah dapat membuat masa depan anak justru terganggu akibat kecanduan gadget.
Sebagai upaya pencegahan, keduanya mendorong gerakan sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, termasuk membiasakan diri tidak menggunakan gadget saat berkumpul bersama keluarga atau teman. Di tengah meningkatnya penggunaan teknologi, kontrol diri dan peran keluarga dinilai penting agar manfaat teknologi tetap maksimal tanpa mengorbankan kualitas hubungan sosial dan perkembangan generasi muda.