BERITA TERKINI
Pentingnya Sains Terbuka bagi Indonesia di Tengah Keterbatasan Dana Riset

Pentingnya Sains Terbuka bagi Indonesia di Tengah Keterbatasan Dana Riset

Perbincangan mengenai dana riset pemerintah Indonesia yang relatif kecil dibandingkan negara lain kembali menjadi sorotan setelah cuitan Achmad Zaky, CEO Bukalapak, yang menyinggung hal tersebut dalam konteks pengembangan Industri 4.0. Pernyataan ini memicu respons dari Presiden Joko Widodo yang menegaskan bahwa anggaran riset tahun ini mencapai Rp 26 triliun yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga. Namun, Jokowi juga mempertanyakan hasil konkret dari peningkatan dana tersebut.

Sains Terbuka: Konsep dan Relevansi untuk Indonesia

Pernyataan Zaky mengingatkan pentingnya mengembangkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan industri. Selain anggaran, kolaborasi antara pemerintah, lembaga penelitian, dan industri menjadi kunci kemajuan. Konsep yang dianggap dapat memperkuat kolaborasi ini adalah sains terbuka (open science).

Sains terbuka merujuk pada prinsip transparansi, akses bebas, dan penyebaran pengetahuan secara luas yang dikembangkan secara kolaboratif. Gerakan ini menitikberatkan pada hasil penelitian yang didanai publik agar dapat diakses oleh masyarakat tanpa hambatan biaya.

Definisi dan Praktik Sains Terbuka

Dalam beberapa tahun terakhir, sains terbuka semakin populer sebagai gerakan yang mendorong keterbukaan data, publikasi, metode, dan sumber daya penelitian. Hal ini merupakan kebalikan dari sains komersial yang eksklusif, di mana akses hasil penelitian seringkali terkunci di balik paywall penerbit komersial dengan biaya tinggi.

Contohnya, biaya akses artikel di beberapa penerbit internasional dapat mencapai US$30 per tayang dengan akses terbatas waktu, bahkan para ilmuwan sering kali harus membayar untuk membaca karya mereka sendiri. Kondisi ini menyulitkan negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mengimbangi kemajuan riset global.

Konsep Keterbukaan dalam Sains Terbuka

  • Akses Terbuka: Membuka publikasi ilmiah agar dapat diakses secara bebas oleh masyarakat, melalui publikasi jurnal akses terbuka (Gold Open Access) atau pengunggahan mandiri karya ilmiah di repositori (Green Open Access).
  • Data Terbuka: Membuka data mentah penelitian agar temuan dapat diverifikasi dan dikembangkan lebih lanjut melalui replikasi.
  • Metodologi Terbuka, Tinjauan Mitra Bestari Terbuka, dan Pendidikan Terbuka juga merupakan bagian dari prinsip ini.

Melampaui Paradigma Sains Konvensional

Walaupun istilah sains terbuka baru populer dalam dekade terakhir, konsep dasarnya sudah diakui sejak lama, termasuk dalam Pasal 27 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) yang menyatakan setiap orang berhak berbagi dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Di Indonesia, Undang-Undang Pendidikan Tinggi juga mewajibkan hasil penelitian untuk disebarluaskan.

Sains terbuka berbeda dengan model sains tradisional dengan empat dimensi utama: transparan, dapat diakses oleh semua orang tanpa memandang kelas sosial, berbagi pengetahuan secara luas, serta kolaboratif antar ilmuwan lintas disiplin dan wilayah.

Hambatan Implementasi Sains Terbuka di Indonesia

Beberapa kendala yang dihadapi ilmuwan dalam menerapkan sains terbuka antara lain kekhawatiran atas pencurian ide atau data yang bisa mengurangi kebaruan riset mereka dan berimbas pada penolakan karya di jurnal bereputasi. Kekhawatiran ini berdampak pada pendanaan dan karir peneliti.

Selain itu, studi menunjukkan rendahnya kepercayaan diri peneliti, praktik penelitian yang meragukan, serta motivasi penelitian yang lebih berfokus pada keuntungan finansial dan jenjang karir dibandingkan pengembangan ilmu pengetahuan menjadi hambatan lain.

Manfaat Sains Terbuka bagi Indonesia

Dengan dana riset yang sebagian besar berasal dari pajak masyarakat, hasil penelitian seharusnya dapat diakses secara terbuka dan tidak diperdagangkan secara komersial. Penerbit komersial seperti Elsevier mendapat kritik karena harga langganan jurnal yang sangat tinggi, membatasi akses perpustakaan dan institusi pendidikan.

Gerakan pembatalan langganan jurnal oleh sejumlah perpustakaan besar dunia sejak 2008 menunjukkan upaya melepas ketergantungan pada penerbit komersial.

Bagi ilmuwan, sains terbuka meningkatkan sitasi, visibilitas, peluang kerja sama, dan potensi dana penelitian. Transparansi juga memungkinkan verifikasi dan replikasi penelitian, mengurangi risiko kecurangan data.

Bagi masyarakat umum, akses terbuka mempermudah pemahaman dan pemanfaatan hasil riset. Pemangku kebijakan dapat merumuskan kebijakan yang lebih berbasis bukti, sedangkan industri dapat mempercepat inovasi dan produksi. Jurnalis juga terbantu dalam memperoleh bahan berita terkait kemajuan ilmu pengetahuan.

Kesimpulan

Dalam kondisi pendanaan riset yang terbatas, Indonesia perlu mengadopsi kebijakan sains terbuka sebagai strategi untuk mengoptimalkan sumber daya riset. Dengan memperkuat kolaborasi dan keterbukaan, diharapkan riset dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan, industri, dan masyarakat secara keseluruhan.