BERITA TERKINI
Pentingnya Etika Digital dalam Menghadapi Tantangan Era Informasi

Pentingnya Etika Digital dalam Menghadapi Tantangan Era Informasi

Klaten – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan mengakses informasi secara cepat dan mudah. Dalam masyarakat digital saat ini, setiap individu tidak hanya berperan sebagai konsumen informasi, tetapi juga produsen informasi. Kondisi ini membawa dampak positif sekaligus negatif bagi kehidupan sosial dan budaya.

Evi Sopandi, peneliti madya dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama RI, mengungkapkan bahwa kemajuan digital memungkinkan terbentuknya komunikasi massal melalui berbagai aplikasi media sosial di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Namun, kemajuan ini juga menimbulkan risiko seperti kejahatan siber, penipuan daring, penyebaran berita palsu (hoaks), ujaran kebencian, konten pornografi, serta informasi negatif lainnya yang dapat merusak persatuan bangsa.

"Dalam konteks tersebut, pembahasan mengenai etika digital menjadi sangat penting. Etika digital berfungsi sebagai pegangan untuk melindungi diri dari berbagai bahaya di dunia maya," tutur Evi dalam webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk masyarakat Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (2/11/2021).

Definisi dan Peran Etika Digital

Menurut Evi, etika berasal dari kata Yunani "ethikos" yang mengacu pada penggunaan, karakter, kebiasaan, kecenderungan, dan sikap seseorang. Istilah "ethos" berarti kebiasaan, adat, akhlak, watak, dan perasaan. Dengan demikian, etika merupakan kumpulan nilai dan norma moral yang menjadi pedoman dalam mengatur perilaku individu atau kelompok.

Dalam konteks digital, etika berarti bersikap bijak saat menggunakan media sosial dan mengakses informasi, termasuk memiliki motivasi untuk membaca berita secara utuh agar tidak mudah terjebak dalam penyebaran hoaks. Etika digital juga menuntut kepedulian terhadap lingkungan sosial, menjaga martabat identitas bangsa, serta menjalin hubungan yang harmonis antarindividu dan antarbangsa di dunia maya.

"Etika digital harus dijadikan pegangan saat berselancar di dunia digital. Tanpa pegangan etika, konsekuensinya bisa sangat fatal karena era digital memberi kebebasan untuk mengunggah berbagai konten, termasuk yang berisi kebencian terhadap etnis, agama, dan mencemarkan harga diri bangsa," tegas Evi Sopandi.

Budaya Digital dan Waspada Terhadap Ancaman Siber

Dari perspektif budaya digital, Siti Kusrini, guru Pendidikan Agama Islam di SDN 7 Batusari, menekankan bahwa aktivitas di ruang digital harus senantiasa mengedepankan wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, dan keberagaman (kebhinnekaan). Menurutnya, internet telah mengubah gaya hidup dan cara pandang masyarakat secara signifikan, serta menjadi sumber utama kebutuhan pengetahuan.

Namun, Siti mengingatkan bahwa tidak ada sistem yang sepenuhnya aman. Setiap celah keamanan dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan berbahaya. Salah satu risiko yang paling umum adalah mengklik tautan (link) secara sembarangan di internet yang dapat mengakibatkan pencurian data, infeksi malware, virus, ransomware, hingga pengosongan rekening bank melalui akses ilegal.

"Bahaya yang muncul akibat mengklik link sembarangan antara lain menurunnya kualitas jaringan, terpapar iklan konten negatif, penipuan, pembobolan media digital, dan pengambilalihan akses pengguna," jelas Siti Kusrini.

Diskusi Virtual dan Narasumber Lain

Diskusi virtual bertajuk "Kenali Bahaya di Dunia Digital: Jangan Asal Klik di Internet" yang dipandu moderator Rara Tanjung juga menghadirkan narasumber lain seperti Nyarwi Ahmad (Direktur Eksekutif Indonesia Presidential Studies), Imam Wahyudi (Anggota Dewan Pers 2013-2019), serta musisi Sony Ismail sebagai key opinion leader. Diskusi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi dan etika digital dalam menghadapi tantangan dan bahaya di dunia maya.