Kemajuan kecerdasan buatan (AI) membuat interaksi digital kian meyakinkan. Wajah di layar dapat tampil realistis dan suara terdengar natural, hingga percakapan seolah dilakukan dengan manusia sungguhan. Namun, perkembangan ini juga memunculkan masalah baru: krisis kepercayaan di ruang digital.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sepanjang Januari hingga 9 Juli 2025 terdapat lebih dari 74.000 pengaduan penipuan berbasis AI. Modus yang dilaporkan antara lain kloning suara dan manipulasi wajah menggunakan teknologi deepfake.
Dampaknya tercermin pada nilai kerugian yang besar. Berdasarkan catatan Indonesia Anti-Scam Centre, total kerugian akibat penipuan digital sejak November 2024 hingga Oktober 2025 mencapai sekitar Rp7,5 triliun. Angka tersebut menunjukkan penipuan berbasis AI tidak lagi sekadar ancaman potensial, melainkan sudah berdampak langsung pada keamanan finansial masyarakat.
Fenomena ini juga disoroti influencer edukasi keuangan Theresa Learns. Dalam keterangannya pada Jumat (13/3/2026), ia menyebut Indonesia disebut sebagai negara dengan laporan penipuan digital terbanyak di dunia, dengan sekitar 311 ribu laporan dalam setahun. Ia menambahkan, jumlah itu setara hampir 900 laporan per hari, dengan ragam modus mulai dari tautan phishing, file PDF berbahaya, hingga panggilan telepon yang berujung pada pengurasan rekening korban.
Data OJK merinci beberapa modus yang paling banyak dilaporkan, yakni penipuan jual-beli daring sebanyak 39.108 kasus, panggilan palsu (fake call) 20.628 laporan, serta penipuan investasi 14.533 laporan. Sebagian pelaku memanfaatkan teknologi AI seperti voice cloning dan deepfake untuk membangun kepercayaan korban sebelum melancarkan aksinya.
Perkembangan modus juga dinilai semakin canggih. Jika sebelumnya kejahatan siber kerap dikaitkan dengan virus atau peretasan, kini pelaku dapat menciptakan identitas digital yang tampak nyata melalui manipulasi wajah dan suara. Dalam periode November 2024 hingga Februari 2025 saja, kerugian akibat penipuan berbasis deepfake dan electronic Know Your Customer (eKYC) sintetis di sektor perbankan digital dilaporkan melampaui Rp700 miliar.
Di tengah situasi tersebut, muncul gagasan “Proof of Human” sebagai konsep verifikasi baru untuk memastikan interaksi digital benar-benar dilakukan oleh manusia asli, bukan hasil rekayasa AI. Konsep ini dipandang sebagai salah satu upaya menjawab tantangan ketika wajah dan suara di ruang digital semakin sulit dipercaya.