Pemanfaatan aplikasi berbasis mobile kian menjadi bagian dari keseharian masyarakat di tengah era digitalisasi, termasuk dalam menjalankan ibadah selama bulan suci Ramadan. Melalui berbagai layanan digital, masyarakat dapat mengakses jadwal salat, membaca Al-Qur’an, hingga menyalurkan zakat dan donasi langsung dari ponsel.
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 mencatat penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,66%. Angka ini naik sekitar 1,16% dibandingkan tahun sebelumnya, yang berarti sekitar delapan dari sepuluh penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet.
Jumlah pengguna internet di Indonesia juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2020 tercatat sekitar 196,7 juta pengguna, naik menjadi 202,6 juta pada 2021, lalu meningkat lagi menjadi sekitar 210 juta pada 2022.
Tren pertumbuhan berlanjut pada periode berikutnya. Pada 2023, jumlah pengguna internet tercatat sekitar 215 juta, meningkat menjadi 221 juta pada 2024, dan kembali naik signifikan menjadi 229 juta pada 2025. Dalam dua tahun terakhir, penambahan pengguna baru mencapai sekitar 14 juta orang. Peningkatan ini menunjukkan akses digital yang kian meluas dan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Besarnya basis pengguna internet dinilai memperkuat potensi berkembangnya aktivitas ibadah berbasis digital, terutama melalui aplikasi. Salah satu contoh yang disebutkan adalah aplikasi Al-Qur’an yang dikembangkan Kementerian Agama Republik Indonesia, Quran Kemenag, yang telah diunduh jutaan kali di Google Play Store. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pengguna terhadap platform ibadah digital yang dianggap kredibel dan terverifikasi.
Sejumlah kategori aplikasi pendukung ibadah disebut paling banyak digunakan masyarakat selama Ramadan. Pertama, aplikasi jadwal salat dan pengingat adzan yang membantu ketepatan waktu ibadah melalui notifikasi otomatis. Beberapa aplikasi juga dilengkapi penunjuk arah kiblat serta jadwal salat berbasis lokasi real-time.
Kedua, Al-Qur’an digital yang memudahkan tilawah secara fleksibel. Fitur seperti terjemahan, tafsir, audio murottal, penanda bacaan, hingga target khatam membantu pengguna menjaga konsistensi membaca kapan saja dan di mana saja.
Ketiga, pengingat imsak dan jadwal buka puasa. Notifikasi otomatis membantu persiapan sahur dan berbuka sesuai jadwal di masing-masing daerah, termasuk fitur hitung mundur menuju waktu berbuka.
Keempat, aplikasi doa harian dan dzikir digital yang menyediakan kumpulan doa tematik, seperti doa sebelum berbuka, doa setelah salat, serta dzikir pagi dan petang. Penyajian dalam format teks dan audio dinilai membantu pengguna memahami dan menghafal bacaan.
Kelima, konten kajian dan edukasi Islami berbasis digital. Ceramah singkat, kajian tafsir, kelas daring, hingga podcast menjadi alternatif pembelajaran yang lebih fleksibel. Format video pendek dan siaran langsung juga membuat materi kajian lebih mudah diakses, termasuk oleh generasi muda.