Dalam menanti film James Bond ke-25 yang akan menandai penampilan terakhir Daniel Craig sebagai agen rahasia Inggris, sebuah penelitian dari University of Oregon, Selandia Baru, mengungkap dugaan bahwa karakter James Bond mengalami masalah alkohol yang serius.
Penelitian ini dipublikasikan dalam makalah berjudul "License to Swill", yang merupakan plesetan dari judul film Bond License to Kill. Empat penulis makalah tersebut menganalisis 24 film James Bond dan menemukan bahwa dalam setiap film terdapat minimal lima adegan di mana Bond terlihat mabuk atau mengonsumsi alkohol secara berlebihan.
Menurut penelitian ini, konsumsi alkohol yang konsisten pada karakter Bond tidak hanya menjadi ciri khas, tetapi juga diduga memengaruhi perilakunya dalam menjalankan tugas mata-mata, termasuk berjudi dengan taruhan tinggi, berkelahi, mengejar musuh dengan kendaraan cepat, menerbangkan helikopter, mengoperasikan peralatan berat, hingga berinteraksi dengan hewan berbahaya dan melakukan hubungan seksual.
Para peneliti menyebutkan bahwa dalam film Quantum of Solace (2008), konsumi alkohol Bond mencapai puncaknya, di mana dalam sebuah adegan di pesawat jet pribadi, Bond menenggak enam gelas vesper martini. Berdasarkan deskripsi tersebut, kadar alkohol dalam darah Bond diperkirakan mencapai 0,36 g/dL, yang biasanya akan mempengaruhi kemampuan motorik dan kognitif seseorang secara signifikan.
Lebih lanjut, penelitian ini mengacu pada kriteria alkoholisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). James Bond dianggap memenuhi enam dari sebelas kriteria alkoholisme, sehingga diduga mengalami masalah alkohol yang tergolong parah.
Rekomendasi Penanganan
Para penulis makalah menyarankan agar karakter James Bond tidak dibiarkan menghadapi masalah alkoholnya sendirian. Mereka mengusulkan agar institusi tempat Bond bekerja memberikan dukungan profesional, seperti konseling dan terapi psikiatri, untuk membantu mengatasi stres dan trauma yang berkaitan dengan pekerjaan berisiko tinggi yang dijalaninya.
Selain itu, laporan tersebut menekankan pentingnya adanya rekan kerja yang lebih banyak dan penyesuaian beban kerja agar Bond tidak terus-menerus berada dalam situasi dengan tingkat stres yang sangat tinggi.
Penelitian ini memberikan pandangan baru terhadap karakter ikonik James Bond, yang selama ini dikenal sebagai sosok flamboyan dan selalu tampil percaya diri di layar lebar, namun dalam konteks kesehatan mental dan fisik, karakter tersebut menunjukkan tanda-tanda masalah yang perlu mendapat perhatian lebih serius.