JAKARTA – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) membukukan kenaikan laba 76,9% secara tahunan hingga akhir Desember 2025 menjadi Rp408,5 miliar. Kinerja tersebut ditopang lonjakan pendapatan neto Perseroan yang meningkat 147% menjadi Rp1,7 triliun.
Pertumbuhan pendapatan terutama didorong oleh bisnis fiber to the home (FTTH) yang pada 2025 untuk pertama kalinya mencatatkan pendapatan sebesar Rp541,1 miliar. Selain FTTH, pendapatan dari bisnis bandwidth juga melonjak 146,9% menjadi Rp560,8 miliar, menjadikan kedua lini tersebut sebagai kontributor utama di segmen telekomunikasi.
Di luar telekomunikasi, segmen periklanan turut mencatat pertumbuhan. Pada 2025, pendapatan dari segmen ini meningkat 36,4% menjadi Rp459,5 miliar.
Dalam pengembangan bisnis, Perseroan sebelumnya merencanakan ekspansi jaringan FTTH melalui dana rights issue sebesar Rp5,9 triliun, serta suntikan modal Rp1 triliun dari NTT e-Asia untuk PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE). Namun, rencana terbaru menyebutkan Perseroan berencana merealokasikan dana rights issue tersebut untuk pengembangan proyek 5G fixed wireless access (FWA) 1,4 GHz, yang dikenal sebagai Internet Rakyat (IRA), melalui anak usaha PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP).
Berdasarkan laporan IDNFinancials.com, Perseroan memprioritaskan dana tersebut untuk program IRA yang baru diluncurkan dibandingkan ekspansi jaringan FTTH, karena pengembangan jaringan fiber dinilai memerlukan modal yang lebih besar. Program IRA juga diproyeksikan dapat mendorong arus kas Perseroan lebih mudah dan lebih cepat dalam jangka menengah.
Merujuk laporan keuangan Perseroan, beban pokok pendapatan meningkat seiring kenaikan pendapatan. Meski demikian, margin laba kotor naik dari 61,7% menjadi 67,9% pada akhir 2025. Di sisi lain, margin laba bersih turun dari 34,4% menjadi 24,6%.
Dari sisi neraca, total aset Perseroan melonjak 422% menjadi Rp15,2 triliun, seiring rights issue Rp5,9 triliun, suntikan modal NTT e-Asia, serta penerbitan obligasi dan sukuk. Sementara itu, liabilitas meningkat 243% menjadi Rp6,6 triliun, setelah penerbitan obligasi dan sukuk oleh IJE.
Direktur Utama WIFI Yune Marketatmo menyatakan dana dari penerbitan tersebut digunakan untuk pelunasan fasilitas Bank BNI, Obligasi I, belanja modal, serta modal kerja IJE, sebagaimana disampaikan dalam keterangan resmi pada Rabu (25/3).