Pemerintah Kota Banda Aceh bersama sejumlah instansi memperkuat edukasi penggunaan gadget pada anak, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak ketergantungan perangkat digital di kalangan pelajar. Selain melalui kebijakan di sekolah, peran orang tua dinilai menjadi faktor utama dalam mengontrol sekaligus membimbing anak agar bijak memanfaatkan teknologi.
Kepala Bidang E-Government Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Banda Aceh, Asna Mardhia, S.STP, menekankan pentingnya membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak terkait penggunaan gadget. Ia menyebut tidak semua aplikasi atau permainan berdampak buruk, selama digunakan secara bersama dan tetap terkontrol.
“Orang tua itu harus membangun komunikasi dengan anak. Tidak semua aplikasi atau game itu jelek, boleh saja dimainkan bersama, misalnya satu perangkat untuk beberapa pemain, sehingga tetap ada interaksi,” ujarnya dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Senin (6/4/2026).
Menurut Asna, pembatasan penggunaan gadget perlu diterapkan secara konsisten. Orang tua disarankan menetapkan waktu penggunaan yang jelas agar tidak mengganggu aktivitas penting anak, seperti belajar, mengaji, makan, dan istirahat.
Selain pengaturan waktu, pengawasan terhadap konten yang diakses anak juga dinilai krusial. Asna menilai orang tua tidak cukup hanya menyediakan perangkat, tetapi perlu aktif memantau penggunaan serta peka terhadap perubahan perilaku anak.
“Orang tua harus jeli dan aware. Anak itu aset masa depan, jadi tidak bisa dibiarkan tanpa pengawasan,” katanya.
Melalui komunikasi yang intens, pengawasan yang tepat, serta konsistensi aturan di rumah, diharapkan anak-anak dapat memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa mengorbankan perkembangan sosial dan emosional mereka.