Pemerintah mempercepat transformasi ekonomi digital nasional melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan komunitas perusahaan rintisan (startup). Upaya ini ditujukan untuk memperkuat daya saing ekonomi sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan keynote speech secara daring dalam ajang The NTT Startup Challenge 2025 Pitch Day di Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Airlangga menyebut posisi Indonesia strategis dalam peta ekonomi digital dunia. Dengan lebih dari 3.000 startup, Indonesia menempati peringkat keenam dunia. Menurutnya, ekosistem startup yang dinamis menjadi aset penting bagi pertumbuhan ekonomi digital nasional yang kini dinilai sebagai mesin penggerak baru pembangunan.
Ia memaparkan kontribusi ekonomi digital Indonesia telah mencapai 90 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.494 triliun (kurs Rp 16.600 per dolar AS) pada 2024. Nilai tersebut diperkirakan meningkat menjadi 110 miliar dolar AS (Rp 1.826 triliun) pada 2025 dan naik hingga 360 miliar dolar AS (Rp 5.976 triliun) pada 2030.
Dalam proyeksi itu, sektor e-commerce disebut berpotensi menjadi penyumbang terbesar dengan nilai sekitar 150 miliar dolar AS (Rp 2.490 triliun). Selain memperkuat pasar domestik, pemerintah juga menjalin kerja sama regional melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) untuk mendorong integrasi dan inklusivitas ekonomi digital di kawasan.
Airlangga menyatakan inisiatif tersebut menargetkan ASEAN menjadi kekuatan ekonomi digital dengan nilai mencapai 2 triliun dolar AS atau sekitar Rp 33.200 triliun pada 2030.
Di sisi lain, ia menekankan kebutuhan talenta digital untuk menopang peta jalan transformasi digital nasional. Indonesia diperkirakan memerlukan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030.
Berdasarkan studi World Economic Forum (WEF), lima bidang pekerjaan digital dengan pertumbuhan tercepat pada periode 2025–2030 meliputi Big Data Specialists, Fintech Engineers, Artificial Intelligence and Machine Learning Experts, Software Developers, serta Security Management Professionals.
Untuk memperkuat ekosistem, pemerintah menggencarkan sejumlah inisiatif, antara lain program 1.000 Digital Startups, Startup4Industry, BEKUP (BEKRAF for Pre-Startup), Startup Studio Indonesia, dan Blue Innovative Startup Acceleration (BISA). Program-program tersebut mencakup dukungan pelatihan, pendampingan, hingga bootcamp, dengan tujuan membantu startup lokal berkembang dan menembus pasar global.
Airlangga menegaskan, keberhasilan kompetisi startup tidak seharusnya berhenti pada ajang penghargaan. Menurutnya, diperlukan langkah nyata agar inovasi yang lahir dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai potensi ekonomi digital Indonesia menjanjikan, namun ia mengingatkan masih ada tantangan yang perlu diselesaikan agar pertumbuhan sektor ini lebih optimal. Salah satu isu yang disorot adalah penurunan investasi digital yang dinilai perlu segera diatasi.
Menurut Huda, fenomena tersebut turut memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan menjadi sinyal bahwa ekosistem digital nasional belum sepenuhnya stabil.