BERITA TERKINI
OpenAI Kembali Garap Robotika, Soroti Startup Open-Source K-Scale Labs

OpenAI Kembali Garap Robotika, Soroti Startup Open-Source K-Scale Labs

OpenAI menunjukkan ketertarikan baru pada bidang robotika, termasuk pada startup robotika open-source K-Scale Labs. Perkembangan ini menandai semakin kuatnya pertemuan antara kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan upaya menghadirkannya dalam bentuk fisik melalui robot.

Langkah tersebut juga sejalan dengan keputusan OpenAI untuk kembali membangun tim robotikanya setelah sempat berhenti beberapa tahun. OpenAI sebelumnya membubarkan divisi robotika pada 2020. Salah satu alasannya, menurut penjelasan salah satu pendiri OpenAI Wojciech Zaremba saat itu, adalah lambatnya kemajuan serta keterbatasan data pelatihan, meski tim sempat mencatat capaian seperti pengembangan lengan robot yang mampu menyelesaikan kubus Rubik.

Kini, OpenAI kembali merekrut insinyur riset untuk tim robotika baru. Dalam sejumlah lowongan yang dibuka, OpenAI menekankan bahwa kandidat terpilih akan menjadi bagian dari anggota awal tim. Berbeda dari pendekatan sebelumnya, OpenAI disebut berfokus bekerja sama dengan produsen robot yang sudah ada, bukan membangun sistem yang bersaing langsung. Model kolaboratif ini dipandang dapat membantu mengatasi persoalan lama di robotika, yakni ketersediaan data pelatihan.

Di saat yang sama, K-Scale Labs—startup dari angkatan Y Combinator 2024—mendorong pendekatan open-source dalam pengembangan robot humanoid. Perusahaan ini mengusung misi mendemokratisasi robotika lewat teknologi terbuka. Proyek utamanya, Stompy, diperkenalkan sebagai robot humanoid open-source yang dirancang agar dapat dibuat secara luas.

Stompy berukuran sekitar 1,20 meter dan dirancang sehingga setiap bagiannya dapat diproduksi menggunakan printer 3D dengan ukuran alas cetak 256 × 256 mm. K-Scale Labs menyebut robot ini menggunakan mekanisme penjepit berbasis riset “Universal Manipulation Interface” dan dapat dibangun dengan total biaya material di bawah 10.000 dolar AS. Untuk prototipe, perusahaan menggunakan material serat karbon PAHT, namun menyatakan pada prinsipnya dapat memakai plastik lain yang cukup kuat.

Dari sisi spesifikasi, Stompy menggunakan aktuator berupa quasi-direct drive dengan rasio reduksi 6:1 hingga 8:1. Desain ini ditujukan untuk menghasilkan sendi berinersia rendah dan kemampuan “backdrivable”, dengan torsi nominal 3–12 Nm. Robot juga dilengkapi baterai 48V 15Ah yang dapat ditukar, dengan klaim waktu operasi lebih dari satu jam.

Selain Stompy, K-Scale Labs juga berencana merilis desain robot berbasis logam bernama Zeroth Bot V2. Robot ini digambarkan sebagai humanoid yang mudah diakses bagi pengembang untuk membawa AI ke dunia fisik.

Ketertarikan OpenAI pada K-Scale Labs muncul di tengah tren yang lebih luas: integrasi model AI canggih ke sistem robot fisik. OpenAI juga telah menaruh perhatian pada sektor ini melalui investasi, termasuk pendanaan 100 juta dolar AS ke 1X, perusahaan Norwegia yang mengembangkan robot humanoid NEO. Di sisi lain, dinamika pasar robot humanoid disebut ikut menguat, dengan kemajuan dari perusahaan seperti Figure AI dan 1X Technologies.

Dalam pengembangan internalnya, kebangkitan tim robotika OpenAI dikaitkan dengan upaya membangun model bahasa multimodal besar (multimodal LLM) yang ditujukan untuk aplikasi robot. Model multimodal memungkinkan pemrosesan berbagai jenis masukan, seperti data sensor dan perintah suara, sehingga berpotensi meningkatkan kemampuan robot berinteraksi dengan lingkungan dan menangani tugas kompleks. OpenAI juga mulai mengisi peran-peran terkait perangkat keras robotika, termasuk posisi yang disebut mencakup integrasi sistem untuk rekayasa listrik, insinyur produk mekanik, serta manajer TPM untuk tim robotika.

Pendekatan open-source yang diusung K-Scale Labs dinilai dapat menurunkan hambatan masuk di industri yang selama ini banyak didominasi teknologi berpemilik. Perusahaan menyampaikan visi untuk memungkinkan hadirnya “satu miliar robot humanoid” dengan memperkecil hambatan akses dan memperluas partisipasi dalam pengembangan robot. Sejumlah perusahaan lain juga dikenal aktif di ekosistem robotika open-source, di antaranya Evezor, Clearpath Robotics, Nvidia, Husarion, dan Picknik Robotics.

K-Scale Labs menyatakan tidak hanya membuka desain perangkat keras, tetapi juga membangun ekosistem perangkat lunak, termasuk sistem operasi untuk robot humanoid yang diklaim lebih sederhana dipasang dan dijalankan dibanding ROS. Infrastruktur tersebut juga mencakup alat untuk menghasilkan file URDF dari model CAD, serta pustaka untuk melatih algoritma kontrol di lingkungan simulasi.

Para pendiri K-Scale Labs memiliki latar belakang di sejumlah institusi teknologi dan riset. CEO Benjamin Bolte disebut pernah bekerja di Tesla dan Meta AI, direktur perangkat keras Matt Freed memiliki pengalaman di General Dynamics Electric Boat, sementara manajer perangkat lunak Pawzianowski meraih gelar doktor di bidang sistem dialog dari University of Cambridge.

Secara industri, pertemuan AI dan robotika membuka peluang penerapan di berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga kebutuhan rumah tangga. Jika model AI semakin terintegrasi dengan robot fisik, robot berpotensi menjadi lebih fleksibel dan adaptif. Dalam konteks ini, minat OpenAI terhadap inisiatif seperti K-Scale Labs dinilai dapat mempercepat perkembangan, terutama bila kolaborasi dengan produsen robot membantu memperluas ketersediaan data pelatihan yang selama ini menjadi tantangan.

Meski tantangan teknis masih besar, arah pengembangan tersebut menunjukkan semakin kaburnya batas antara dunia digital dan fisik. Beberapa tahun ke depan akan menjadi periode penting untuk melihat sejauh mana konvergensi AI dan robotika—termasuk melalui pendekatan open-source—mampu mengubah cara robot dikembangkan dan digunakan.