Gagasan ekonomi berkemajuan di lingkungan Muhammadiyah berangkat dari pandangan bahwa Islam merupakan din al-hadlarah, agama yang memberi arah bagi peradaban. Dalam konteks ekonomi Indonesia saat ini, pandangan tersebut dinilai menuntut perubahan orientasi, mengingat ketergantungan pada konsumsi domestik dan ekspor komoditas dipandang sulit menjawab kebutuhan jangka panjang. Basis pertumbuhan baru, menurut pandangan ini, perlu bertumpu pada inovasi yang ditopang riset yang serius.
Riset dan pengembangan (R&D) ditempatkan sebagai titik awal perubahan. Inovasi yang berdampak luas disebut tidak lahir secara kebetulan, melainkan melalui proses panjang penguasaan ilmu pengetahuan, terutama di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM). Dalam kerangka Manhaj Islam Berkemajuan, pendekatan ini dipahami sejalan dengan metode burhani, yakni penggunaan akal dan penelitian ilmiah untuk menyelesaikan persoalan nyata. Penguasaan teknologi, dalam perspektif tersebut, dipandang bukan sekadar pilihan strategis, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk memakmurkan kehidupan.
Gambaran tentang ekosistem pendidikan dan inovasi disampaikan melalui pengalaman melihat langsung Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) Guangzhou pada April 2026. Kampus itu digambarkan tidak lagi memosisikan diri terutama sebagai lembaga yang meluluskan mahasiswa, melainkan sebagai pusat inovasi yang terhubung dengan kebutuhan industri. Pendidikan, riset, dan bisnis disebut berjalan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Model yang dikembangkan HKUST Guangzhou juga digambarkan melampaui batas disiplin ilmu yang kaku. Pendekatan cross-disciplinary hubs mempertemukan berbagai bidang keilmuan untuk tujuan menciptakan solusi. Daya saing, dalam model tersebut, tidak semata ditentukan oleh kedalaman penguasaan satu bidang secara terpisah, melainkan oleh kemampuan mengintegrasikan berbagai ilmu dalam kerja kolaboratif.
Alur kerja riset yang dibangun juga disebut jelas dari hulu ke hilir. Pengembangan material dan teknologi dasar menjadi fondasi, lalu diintegrasikan ke proses manufaktur dan otomatisasi. Pengolahan data dan kecerdasan digital memperkuat kemampuan membaca serta memprediksi kebutuhan pasar. Pada tahap akhir, hasil riset diarahkan untuk menjawab persoalan masyarakat dan masuk ke pasar melalui kebijakan, model bisnis, dan inovasi finansial. Dengan demikian, riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi bergerak hingga menjadi produk dan layanan yang digunakan.
Bagi dunia usaha, pendekatan tersebut dinilai mengubah posisi pelaku ekonomi. Pengusaha tidak cukup menjadi pengguna teknologi, tetapi dituntut menjadi pencipta, atau setidaknya terlibat dalam proses penciptaan. Dalam perspektif keislaman, peran itu dikaitkan dengan amanah sebagai khalifah di bumi yang bekerja melalui amal ilmiah untuk menghadirkan kemaslahatan.
Peluang untuk masuk ke ekosistem semacam itu disebut terbuka, antara lain melalui skema beasiswa penuh bagi mahasiswa internasional di HKUST Guangzhou untuk jenjang magister dan doktoral, termasuk dukungan biaya hidup dan fasilitas. Kesempatan tersebut dinilai dapat memberi ruang bagi kader muda untuk mendalami ilmu tanpa beban biaya sekaligus terhubung dengan jejaring riset global.
Lokasi kampus di kawasan Greater Bay Area juga disebut memberi nilai tambah karena wilayah itu menjadi salah satu pusat pertumbuhan teknologi dan investasi dunia, dengan keterhubungan antara Shenzhen, Hong Kong, dan Macao. Lingkungan tersebut dipandang mempertemukan riset, industri, dan modal dalam ruang yang dinamis, sehingga dapat mempercepat pembelajaran dan membuka peluang kolaborasi.
Dalam konteks Muhammadiyah, penguatan ekonomi umat disebut tidak bisa dilepaskan dari penguatan kapasitas keilmuan. Serikat Usaha Muhammadiyah menilai agenda ini mendesak, dengan menekankan bahwa pengusaha berkemajuan adalah mereka yang adaptif, berbasis ilmu, dan terlibat dalam proses inovasi. Transformasi itu dipandang membutuhkan investasi pada sumber daya manusia, terutama generasi muda yang siap masuk ke bidang teknologi dan riset.
Langkah menuju ekonomi berbasis inovasi diakui tidak ringan karena menuntut perubahan orientasi dari aktivitas ekonomi jangka pendek menuju pembangunan kapasitas jangka panjang. Namun tanpa perubahan tersebut, Indonesia dinilai berisiko terus berada pada rantai nilai rendah dalam ekonomi global. Pilihan yang digarisbawahi adalah tetap menjadi pasar dan perakit, atau bergerak menjadi pencipta.
Kesempatan untuk menentukan arah itu disebut sudah terbuka. Tantangannya, menurut tulisan tersebut, terletak pada keberanian mengambil peluang dan konsistensi menjalankannya.