Ketentuan layanan yang disertakan para perusahaan teknologi besar mengungkap satu pesan yang serupa: pengguna diminta tidak menganggap keluaran sistem kecerdasan buatan sebagai kebenaran yang bisa dipercaya begitu saja. Peringatan ini tercantum dalam dokumen resmi beberapa pemain utama industri, termasuk Microsoft, OpenAI, dan xAI.
Sorotan mengarah ke Microsoft setelah pembaruan ketentuan penggunaan per 24 Oktober 2025 memuat pernyataan bahwa Copilot “hanya ditujukan untuk tujuan hiburan”. Kalimat tersebut memicu perdebatan karena Copilot selama ini diposisikan sebagai asisten produktivitas, termasuk untuk kebutuhan kerja profesional.
Dalam dokumennya, Microsoft juga memperingatkan bahwa Copilot dapat membuat kesalahan dan mungkin tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Perusahaan meminta pengguna untuk tidak mengandalkan Copilot untuk nasihat penting dan menegaskan penggunaan dilakukan dengan risiko pengguna sendiri.
Menanggapi perbincangan yang muncul, juru bicara Microsoft menyatakan bahwa frasa tersebut merupakan “bahasa lama” yang dinilai sudah usang dan tidak lagi mencerminkan fungsi Copilot pada 2026. Microsoft menyebut akan memperbarui bahasa hukum pada revisi berikutnya agar lebih relevan dengan penggunaan Copilot sebagai alat pendukung kerja profesional.
Pola penafian serupa juga ditemukan pada perusahaan lain. Laporan Tom’s Hardware menyebut pendekatan ini lazim dipakai oleh pemain besar di industri AI. xAI, misalnya, memperingatkan pengguna agar tidak mengandalkan output sistemnya sebagai sebuah “kebenaran”. Sementara OpenAI menyatakan pengguna tidak seharusnya menjadikan hasil percakapan sebagai satu-satunya sumber kebenaran atau informasi faktual.
Peringatan tersebut berkaitan dengan risiko “halusinasi AI”, yakni kondisi ketika model bahasa menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan namun ternyata keliru atau bersifat fiktif. Karena itu, keluaran AI tetap perlu diverifikasi, terutama ketika digunakan untuk konteks yang berdampak besar.
Di balik peringatan itu, terdapat pertimbangan perlindungan hukum. Dengan mencantumkan disclaimer, perusahaan pada dasarnya membatasi tanggung jawab atas kerugian yang mungkin timbul akibat kesalahan output AI dan mengalihkan beban kehati-hatian kepada pengguna.
Bagi pengguna, rangkaian penafian ini menjadi pengingat bahwa AI dirancang sebagai alat bantu, bukan pengganti penilaian manusia. Validasi dan pengecekan tetap dibutuhkan sebelum output AI dipakai untuk keputusan penting.