BERITA TERKINI
Menkraf: Tren Kerja Bergeser, 60 Persen Lulusan Bekerja di Luar Bidang Kuliah

Menkraf: Tren Kerja Bergeser, 60 Persen Lulusan Bekerja di Luar Bidang Kuliah

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut tren dunia kerja telah bergeser, dengan peluang yang kini tumbuh pesat di sektor industri kreatif. Menurutnya, kondisi sulitnya mencari kerja dan meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak hanya dipengaruhi situasi geopolitik, tetapi juga karena lapangan kerja di sektor konvensional semakin menyempit.

“Kalau banyak yang bilang sekarang semakin sulit mencari pekerjaan, semakin banyak PHK, ternyata bukan hanya karena situasi geopolitik saat ini, tetapi karena tren dunia sudah bergeser. Saat kita terus berkutat mencari kerja di industri yang makin sempit, sebenarnya lapangan besar justru ada di tempat lain, yakni industri kreatif,” ujar Riefky saat membuka acara Genmatic (Generasi Melek Teknologi) 2025 di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Niti Mandala, Denpasar, Sabtu (14/6) pagi.

Acara Genmatic 2025 disebut merupakan kolaborasi Kementerian Ekonomi Kreatif, Bank Indonesia, dan Lynk.ID, sebuah platform digital yang memungkinkan kreator konten, pelaku bisnis, dan individu mengelola berbagai tautan penting dalam satu halaman.

Dalam kesempatan itu, Riefky memaparkan hasil komunikasinya dengan sebuah universitas negeri besar di Indonesia yang menunjukkan 60 persen lulusan tidak bekerja di bidang yang dipelajari selama empat tahun kuliah. Ia mengatakan, banyak lulusan justru beralih ke sektor industri kreatif seperti kuliner, fashion, musik, hingga konten digital.

“Anak muda sekarang ingin bekerja sesuai passion. Yang dari kecil suka musik ingin jadi musisi, suka film ingin bikin film, suka nonton youtuber ingin jadi youtuber. Faktanya, dalam lima tahun terakhir ada 1 sampai 2,5 juta orang yang bekerja di industri kreatif,” kata Riefky.

Riefky menambahkan, industri kreatif mencakup berbagai bidang, antara lain kuliner, seni pertunjukan, arsitektur, desain produk, animasi, media, aplikasi, konten digital, hingga game. Ia berharap program seperti Genmatic dapat mendorong generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga kreator, inovator, dan wirausaha digital yang menciptakan nilai tambah ekonomi.

Ia juga mengajak peserta memanfaatkan kekhasan kreativitas Bali sebagai inspirasi konten. Menurutnya, Genmatic diharapkan tidak hanya memberi pelatihan teknis, tetapi juga membangun mentalitas, jejaring, dan ekosistem yang mendukung tumbuhnya afiliator profesional.

Sementara itu, Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Butet Linda H. Panjaitan melaporkan perekonomian Bali tumbuh 5,52 persen (year on year) pada triwulan I 2025, meningkat dibanding triwulan sebelumnya 5,19 persen. Pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dari angka nasional yang berada di level 4,87 persen.

Butet menyebut capaian itu menunjukkan ketangguhan ekonomi Bali dalam merespons tantangan global maupun domestik. Dari sisi harga, inflasi Bali pada Mei 2025 tercatat 1,92 persen dan masih berada dalam target nasional 2,5 persen ±1 persen. Stabilitas harga ini dinilai turut menopang sektor riil, khususnya ekonomi kreatif dan pariwisata.

Menurut Butet, ekonomi kreatif Bali berkembang pesat seiring dukungan sektor pariwisata. Pada 2024 tercatat terdapat 7.927 unit usaha ekonomi kreatif di Bali, meningkat 59 persen dan didominasi sektor kuliner, kriya, dan fashion. Ia menambahkan, Bank Indonesia memberi perhatian pada pengembangan ekonomi kreatif melalui peningkatan kapasitas, digitalisasi, dan akses pasar, termasuk lewat pelatihan, pendampingan, dan pemanfaatan platform digital untuk mendorong UMKM menjadi go digital dan go global.