JAKARTA — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menilai inovasi dalam transformasi industri di Indonesia masih tertahan akibat minimnya riset dan pemanfaatan teknologi. Ia mengingatkan, tanpa dukungan sains dan teknologi yang kuat, transformasi industri nasional berisiko tertinggal dalam persaingan global di tengah era disrupsi.
Brian menekankan pentingnya peran generasi muda untuk terlibat aktif dalam transformasi industri nasional melalui inovasi berbasis sains dan teknologi. Menurutnya, perubahan global—baik yang dipicu disrupsi teknologi, krisis, maupun dinamika ekonomi—perlu dipandang sebagai peluang untuk melahirkan inovasi baru.
Ia juga menyatakan hanya pelaku usaha dan inovator yang mampu mengintegrasikan riset dan teknologi yang akan bertahan dan berkembang dalam persaingan global. “Ke depan, bisnis, usaha, dan inovasi di Indonesia tidak mungkin berhasil tanpa sains dan teknologi. Jadi, kita harus memperkuat riset dan teknologi,” tegasnya, dikutip Minggu (26/4/2026).
Brian menjelaskan Indonesia masih menghadapi tantangan struktural, salah satunya rendahnya proporsi tenaga kerja berpendidikan tinggi di sektor industri. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada belum optimalnya transformasi industri menuju sektor berbasis teknologi dan pengetahuan.
Meski demikian, ia menilai setiap tantangan membuka ruang bagi lahirnya solusi dan pemain baru, terutama bagi Indonesia yang tengah membangun fondasi industrinya. Sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan peran perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya talenta unggul yang mampu menciptakan inovasi dan solusi nyata bagi kebutuhan industri.
Dalam arah kebijakan tersebut, kampus diharapkan menjadi motor penggerak riset terapan, hilirisasi teknologi, serta kolaborasi strategis dengan dunia usaha dan industri. Brian menilai mahasiswa dan alumni memiliki posisi strategis sebagai tenaga kerja berbasis pengetahuan yang akan menjadi tulang punggung transformasi ekonomi nasional.
“Mahasiswa dan alumni punya posisi strategis sebagai knowledged workforce yang akan menjadi tulang punggung transformasi ekonomi nasional. Maka, pengalaman pendidikan tinggi harus dimanfaatkan secara optimal untuk membangun keberanian dalam menciptakan solusi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Brian menggarisbawahi pentingnya kolaborasi industri dan perguruan tinggi untuk membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Menurutnya, industri yang mampu tumbuh dan bersaing secara global adalah industri yang ditopang riset kuat, penguasaan teknologi, serta keterlibatan talenta unggul dari kampus.
Dalam konteks itu, ia mengapresiasi industri nasional yang berhasil mengembangkan inovasi berbasis riset dan terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar. Model kolaborasi tersebut diharapkan dapat diperluas agar mendorong lahirnya lebih banyak industri berbasis sains dan teknologi di Indonesia.
Brian menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pencapaian besar membutuhkan ketekunan, daya tahan, serta komitmen terhadap kualitas dan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menyebut langkah penguatan riset dan teknologi sejalan dengan visi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi serta mempercepat transformasi Indonesia menuju negara maju dengan daya saing global yang kuat.