BERITA TERKINI
Mendiktisaintek Soroti “Lembah Kematian” Inovasi: Riset Banyak, Produk Komersial Masih Minim

Mendiktisaintek Soroti “Lembah Kematian” Inovasi: Riset Banyak, Produk Komersial Masih Minim

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyoroti masih minimnya hasil riset yang berujung menjadi produk komersial. Menurut dia, dalam dunia riset terdapat tantangan yang kerap disebut sebagai “lembah kematian” inovasi.

Brian menjelaskan, kualitas hasil pendidikan dan riset bisa saja sudah baik, namun belum tentu diterima pasar. Ia mencontohkan, produk yang dihasilkan dapat terkendala pada aspek harga maupun kenyamanan bagi masyarakat.

“Kadang-kadang hasil pendidikan kita sudah baik, tapi misalnya secara harga tidak diterima masyarakat, secara kenyamanan berbeda,” ujar Brian usai peluncuran program Bestari Saintek di Kemdiktisaintek, Kamis (30/4/2026).

Ia menilai, berbagai faktor tersebut perlu diteliti lebih lanjut agar produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pasar dan keinginan pengguna. Penyesuaian itu mencakup spesifikasi, kualitas, hingga harga.

“Baik dari sisi spesifikasi, dari sisi kualitas, dari sisi harga, semuanya,” kata Brian.

Melalui program Bestari Saintek, Kemdiktisaintek mendanai 122 tim riset dan mengupayakan hilirisasi hasil penelitian menjadi produk melalui kemitraan dengan industri. Namun, Brian menyebut ia belum menghitung jumlah riset yang sejauh ini sudah berhasil masuk ke industri.

Brian juga menjelaskan potensi keuntungan bagi inventor ketika hasil riset berhasil dikomersialkan. Menurutnya, industri dapat menandatangani skema royalti, di mana hak paten peneliti atau kampus dibeli royaltinya oleh industri. Dengan demikian, setiap produk yang terjual akan memberikan bagian bagi perguruan tinggi dan dosen inventor.

“Industri ini kan memegang atau menandatangani apa yang disebut dengan royalti. Jadi hak paten dari peneliti, dari kampus itu dibeli royaltinya oleh industri. Jadi setiap barang yang berhasil laku nanti ada bagian untuk perguruan tinggi untuk dosen inventor ini,” ujar Brian.

Ia berpesan agar peneliti tidak khawatir ketika hasil penelitian diproduksi dan dipasarkan oleh industri, karena hak atas royalti tetap melekat selama produk tersebut masih laku di pasaran.

“Jadi jangan khawatir bahwa peneliti atau dosen itu ‘Wah hasil penelitian saya susah-susah, saya kasih ke industri, nanti industri yang laku.’ Enggak begitu,” kata Brian.

“Jangan khawatir karena tetap ada terus sepanjang barang ini masih laku. Dosen, peneliti, inventor, dan juga bahkan kampusnya akan menerima apa yang disebut royalti,” ujarnya.