BANYUMAS — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti penurunan kemampuan konsentrasi siswa yang dikaitkan dengan paparan media sosial dan gim secara berlebihan. Ia menyampaikan hal itu saat menghadiri peresmian revitalisasi sekolah di Banyumas, Jawa Tengah.
Mu’ti mengatakan durasi perhatian (attention span) anak-anak saat ini menurun drastis. Menurutnya, kecanduan gawai dapat membuat pola pikir anak menjadi tidak fokus, yang terlihat dalam komunikasi sehari-hari.
“Dampak yang langsung berkaitan dengan kecerdasan adalah pendeknya perhatian. Kita ajak bicara belum selesai, mereka sudah ganti tema,” ujar Mu’ti.
Ia menjelaskan, stimulasi berlebih dari konten media sosial dan gim yang serba cepat membuat otak anak kesulitan memproses informasi yang membutuhkan fokus mendalam atau durasi lebih lama.
Selain berdampak pada fokus, Mu’ti juga menyinggung risiko terhadap kesehatan mental. Dengan mengutip data WHO dan Unicef, ia menyampaikan bahwa satu dari 10 orang terindikasi mengidap gangguan mental dari kategori ringan hingga berat, serta adanya tren peningkatan angka bunuh diri di kalangan anak-anak akibat tekanan di dunia maya.
Dalam konteks itu, pemerintah disebut mengambil langkah pembatasan. Mu’ti menyampaikan Kementerian Pendidikan bersama enam kementerian lainnya telah menerbitkan aturan pembatasan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Mu’ti menegaskan, peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya melalui pembangunan gedung atau penyediaan sarana. Ia menyebut perbaikan ke depan perlu mencakup metode pengajaran yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman, penguatan pendidikan karakter untuk memperkokoh mental dan etika siswa di tengah gempuran digital, serta pengembangan budaya sekolah yang aman agar lingkungan belajar dapat melindungi anak dari dampak negatif teknologi.