Perkembangan internet di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan, ditandai dengan hadirnya jaringan 5G secara komersial sejak 2021. Meski begitu, 4G masih menjadi jaringan seluler yang paling dominan, sementara WiFi tetap menjadi andalan konektivitas di rumah, kantor, dan ruang publik. Perbedaan ketiganya paling terasa pada aspek kecepatan, latensi, stabilitas, serta jangkauan layanan.
Dari sisi performa teknis, 5G umumnya berada di posisi teratas. Namun, keunggulan tersebut masih dibatasi oleh cakupan jaringan yang belum merata di seluruh Indonesia. Sementara itu, WiFi dapat tampil sangat kompetitif—terutama jika ditopang fiber optik—meski kualitasnya dapat turun pada jaringan publik yang padat pengguna.
Kecepatan: 5G unggul, tetapi belum merata
Secara teori, 5G dapat mencapai kecepatan hingga 10 Gbps. Namun di Indonesia, kecepatan rata-rata 5G disebut berada pada kisaran 75–150 Mbps. Meski demikian, angka ini tetap dinilai lebih tinggi dibanding 4G yang berada di kisaran 100 Mbps, sehingga 5G kerap digambarkan menawarkan kecepatan sekitar 3 hingga 5 kali lebih tinggi dibanding 4G dalam kondisi tertentu.
Dengan karakter tersebut, 5G lebih sesuai untuk aktivitas berintensitas tinggi, seperti streaming video resolusi tinggi (4K), cloud gaming, serta penggunaan aplikasi berbasis augmented reality (AR) dan virtual reality (VR).
WiFi tidak selalu lebih cepat dari seluler
Anggapan bahwa WiFi selalu lebih cepat daripada jaringan seluler tidak selalu terjadi di lapangan. Di Indonesia, WiFi di ruang publik kerap mengalami penurunan kualitas karena banyaknya perangkat yang terhubung secara bersamaan, sehingga bandwidth terbagi. Faktor lain seperti kapasitas router dan kualitas jaringan pendukung juga memengaruhi stabilitas dan kecepatan.
Di sisi lain, WiFi rumah yang berbasis fiber optik dapat lebih stabil dibanding jaringan seluler, terutama untuk kebutuhan seperti rapat daring atau mengunduh berkas berukuran besar.
Latensi: faktor penting untuk respons real-time
Selain kecepatan, latensi menjadi pembeda utama. Latensi adalah waktu yang dibutuhkan data untuk bergerak dari perangkat ke server dan kembali lagi, sehingga sangat berpengaruh pada aktivitas yang memerlukan respons cepat seperti gim daring dan komunikasi real-time.
Jaringan 4G umumnya memiliki latensi sekitar 20 ms. Angka ini dinilai cukup untuk penggunaan harian seperti browsing dan media sosial, tetapi kurang optimal untuk kebutuhan real-time. Sementara itu, 5G menawarkan latensi lebih rendah, sekitar 1–10 ms, yang membuatnya lebih responsif untuk gaming kompetitif dan penerapan Internet of Things (IoT).
WiFi memiliki latensi yang lebih bervariasi, biasanya di kisaran 2–30 ms, bergantung pada kualitas router dan jaringan fiber optik. Dalam kondisi ideal—misalnya dengan WiFi 5 atau WiFi 6—latensi WiFi bisa rendah dan stabil, bahkan sering kali lebih baik daripada 4G untuk penggunaan di dalam ruangan. Namun secara umum, performa latensi WiFi disebut masih berada sedikit di bawah 5G saat jaringan 5G berada dalam kondisi optimal.
Kapasitas perangkat: 5G dan WiFi generasi baru dirancang untuk ramai pengguna
5G dan WiFi generasi terbaru seperti WiFi 6 dan WiFi 7 sama-sama dirancang untuk menangani banyak perangkat sekaligus tanpa penurunan performa yang signifikan. Salah satu teknologi yang mendukung kemampuan ini adalah MU-MIMO (Multi-User Multiple Input Multiple Output), yang membantu jaringan melayani banyak perangkat secara lebih efisien.
Pada 5G, teknologi mmWave (millimeter wave) juga disebut mampu menghadirkan kecepatan sangat tinggi, meski dengan jangkauan yang lebih pendek. Kombinasi kemampuan ini relevan untuk area padat seperti stadion, pusat perbelanjaan, dan perkantoran besar yang membutuhkan koneksi cepat dan stabil.
Jejak 4G dan 5G di Indonesia
Jaringan 4G (LTE) mulai hadir di Indonesia pada 2013 dan dikomersialisasikan pertama kali oleh BOLT! Super 4G LTE, lalu berkembang pesat sejak 2014. Teknologi LTE yang menjadi basis 4G juga disebut melibatkan kontribusi peneliti asal Indonesia, Khoirul Anwar. Pada periode 2016–2019, jaringan 4G mengalami penataan ulang dan optimalisasi infrastruktur sehingga cakupannya semakin luas. Hingga kini, 4G masih menjadi tulang punggung konektivitas nasional karena jangkauan yang luas dan performa yang relatif stabil.
Sementara itu, 5G mulai diperkenalkan secara komersial pada 2021. Berdasarkan informasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, implementasi awal dipelopori Telkomsel sebagai operator pertama, kemudian diikuti Indosat Ooredoo dan XL Axiata setelah melalui tahap uji coba sejak 2017. Penggunaan 5G hingga kini disebut masih terbatas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Laporan Opensignal juga menyebut kecepatan 5G di Indonesia tercatat beberapa kali lipat lebih tinggi dibanding 4G, meski belum mencapai potensi maksimalnya secara global.
Di tengah perkembangan jaringan seluler, WiFi tetap menjadi pilihan utama untuk kebutuhan internet tetap (fixed usage) di rumah, ruang publik, dan perkantoran. Salah satu alasannya, WiFi umumnya ditopang fiber optik yang lebih stabil dan tidak bergantung pada kualitas sinyal seluler di suatu wilayah.
Tantangan infrastruktur dan adopsi
Keunggulan 5G pada kecepatan dan latensi masih berhadapan dengan tantangan pemerataan. Cakupannya disebut belum merata karena biaya pembangunan infrastruktur yang tinggi dan keterbatasan ketersediaan spektrum frekuensi yang perlu diatur secara efisien. Faktor-faktor ini menjadi hambatan utama untuk memperluas jangkauan 5G ke berbagai wilayah.
Sementara itu, kualitas WiFi sangat bergantung pada infrastruktur fiber optik. Semakin baik jaringan fiber, semakin stabil koneksi WiFi. Kondisi ini menjelaskan mengapa di sejumlah daerah WiFi bisa lebih cepat daripada jaringan seluler, sementara di daerah lain justru sebaliknya.
Di sisi lain, kesenjangan digital masih menjadi persoalan, ketika kota-kota besar mulai menikmati 5G, sementara banyak daerah masih bertumpu pada 4G bahkan 3G.
Dampak bagi bisnis dan industri
Peralihan menuju 5G tidak hanya berdampak pada pengalaman pengguna, tetapi juga pada sektor bisnis dan industri. Dengan kecepatan tinggi dan latensi rendah, 5G memungkinkan penerapan otomatisasi pabrik (smart factory), pemantauan real-time berbasis IoT, serta peningkatan efisiensi melalui sistem berbasis cloud. Teknologi ini membuka peluang peningkatan produktivitas sekaligus penghematan biaya operasional.
Meski begitu, WiFi tetap menjadi pilihan utama untuk operasional kantor karena stabil dan terjangkau. Adapun 4G masih memegang peran penting, terutama untuk logistik dan pekerjaan lapangan yang membutuhkan cakupan luas dan koneksi yang relatif stabil di berbagai wilayah.