Puluhan tahun lalu, internet dibayangkan sebagai ruang independen yang tidak terikat pihak mana pun. Harapan itu pernah hidup di kalangan kontrabudaya, yang memimpikan dunia digital komunal dan utopis. Namun, perkembangan menunjukkan arah berbeda: internet kini banyak dikuasai segelintir perusahaan teknologi yang meraup keuntungan dari data dan aktivitas penggunanya.
Gambaran perubahan itu dapat dilihat dari pengalaman sehari-hari yang tampak sepele, seperti teka-teki verifikasi “Saya bukan robot”. Pengguna diminta memilih gambar tertentu, memasukkan teks atau kode, atau menyusun ulang potongan gambar. Aktivitas yang terasa seperti permainan itu, pada praktiknya, menjadi bagian dari kerja yang membantu perusahaan teknologi besar.
Konsep ini berangkat dari gagasan ilmuwan komputer asal Guatemala, Luis von Ahn, yang pada 2004 mengusulkan “games with a purpose” (GWAP). Ia ingin memanfaatkan kemampuan manusia untuk mengerjakan tugas yang saat itu sulit dilakukan komputer, seperti memberi label pada gambar, menyalin teks, atau mengklasifikasikan data. Ide dasarnya: manusia menyelesaikan pekerjaan yang mudah bagi mereka, namun menantang bagi mesin, dalam format permainan.
Von Ahn kemudian mengembangkan permainan ESP (extrasensory perception). Dua pemain dipasangkan secara acak, melihat gambar yang sama, tetapi tidak dapat berkomunikasi. Mereka diminta mendeskripsikan gambar dalam batas waktu tertentu dan memperoleh poin jika deskripsinya cocok. Kecocokan itu dipakai untuk memverifikasi label gambar, lalu disimpan dalam basis data.
Pada 2006, Google melisensikan konsep tersebut untuk membuat Google Image Labeler. Setahun kemudian, von Ahn meluncurkan reCAPTCHA dengan prinsip serupa: manusia menyelesaikan tantangan yang tidak dapat diselesaikan komputer. Namun, ketika orang memecahkan CAPTCHA, mereka juga mentranskripsikan kata-kata dari buku dan surat kabar hasil pemindaian—pekerjaan digitalisasi yang pada saat itu belum bisa dilakukan komputer secara memadai. Von Ahn menjual reCAPTCHA ke Google pada 2009.
Pada 2011, von Ahn bersama Severin Hacker mendirikan Duolingo. Platform ini menerapkan model crowdsourcing: pengguna menerjemahkan teks dan memberi label pada gambar sebagai bagian dari proses belajar bahasa. Imbalannya adalah akses belajar gratis. Aktivitas tersebut menghasilkan basis data bahasa berkualitas tinggi dalam jumlah besar yang kemudian dimonetisasi. Data itu digunakan untuk melatih kecerdasan buatan (AI) serta mendukung ujian kemampuan bahasa Inggris berbayar yang disediakan Duolingo.
Ulises Ali Mejias, profesor studi komunikasi di State University of New York (SUNY) di Oswego, menilai ada jarak antara cita-cita awal dan realitasnya. Menurutnya, ide awalnya adalah kontribusi bersama agar komputer menjadi lebih pintar dan manfaatnya dirasakan merata. Namun, ia menyoroti bahwa data yang dikumpulkan secara gratis akhirnya berujung pada keuntungan yang terkonsentrasi.
Dengan memanfaatkan kecerdasan kolektif manusia, model semacam ini ikut membentuk cara perusahaan memonetisasi data di internet, hingga pengguna berperan layaknya pekerja tanpa bayaran. Pola tersebut bertolak belakang dengan imajinasi awal sebagian kelompok kontrabudaya di California Utara pada 1960-an yang membayangkan internet sebagai ruang kebebasan dan kebersamaan.
Di tengah Perang Vietnam dan Perang Dingin, gerakan kontrabudaya di Amerika Serikat melahirkan gaya hidup komunal dan gagasan tentang kebebasan. Ketika gerakan itu meredup, beberapa tokohnya mencoba menerjemahkan mimpi tersebut ke ranah teknologi. Stewart Brand, misalnya, mendirikan salah satu komunitas virtual awal pada 1985, The WELL (The Whole Earth 'Lectronic Link), serta mempopulerkan frasa “informasi ingin kebebasan.” Tokoh lain yang kerap dikaitkan dengan gagasan internet sebagai ruang kebebasan adalah Steve Jobs dan penulis John Perry Barlow.
Namun, Fred Turner, profesor Stanford dan penulis From Counterculture to Cyberculture, menyebut upaya melarikan diri dari politik melalui teknologi sebagai sikap yang “sangat naif.” Ia menilai bahwa menganggap internet otomatis menciptakan utopia bagi semua orang mengabaikan kenyataan bahwa politik—sebagai sistem yang mengatur kekuasaan dalam kehidupan bersama—tidak dapat dihindari. Turner juga menekankan bahwa ruang yang dibangun pada masa itu tetap mencerminkan relasi kuasa tertentu, termasuk dominasi laki-laki.
Seiring waktu, gagasan internet sebagai ruang independen tidak bertahan. Para penggemar teknologi awal melihat peluang untuk memonetisasi “kesadaran kolektif” melalui mesin pencari, algoritma, dan pengumpulan data. Mejias mencontohkan bagaimana ideologi awal Facebook, menurutnya, mencerminkan sikap “ambil semua data tanpa izin dan gunakan untuk membangun sesuatu yang bisa dimonetisasi.”
Turner menggambarkan perubahan ini sebagai pergeseran dari “era koneksi” ke “era ekstraksi.” Dalam pandangannya, media digital telah menyerupai industri pertambangan: manusia diperlakukan seperti sumber daya—diibaratkan minyak atau batu bara—yang “ditambang” dari “tanah sosial,” lalu hasilnya dijual kembali kepada pengguna dalam bentuk produk dan iklan.
Mejias bersama Nick Couldry, dalam buku Data Grab: The New Colonialism of Big Tech and How to Fight Back, berpendapat bahwa skala ekstraksi data saat ini memiliki kesamaan historis dengan kolonialisme. Couldry menyebut “perebutan tanah” kini berubah menjadi “perebutan data,” yang diambil dan dikonsentrasikan untuk kepentingan segelintir elit. Ia menambahkan bahwa AI merupakan kelanjutan yang, dalam istilahnya, “menyempurnakan” situasi tersebut.
Tiga puluh tahun setelah internet kerap dinyatakan sebagai ruang bebas dan independen, Mejias menilai kondisi saat ini sebagai “tragedi.” Ia berpendapat bahwa di balik layar, kontribusi pengguna pada ruang bersama dimanfaatkan untuk membangun platform yang memprivatisasi data dan menggunakannya demi keuntungan perusahaan.
Meski begitu, Mejias dan Couldry melihat peluang perlawanan. Mereka merujuk pada gerakan yang menentang pembangunan pusat data, serta para pekerja proyek singkat di platform digital yang menuntut kondisi kerja lebih baik. Mereka juga menaruh harapan pada generasi muda. Couldry menilai anak muda memiliki imajinasi untuk membangun masa depan yang lebih baik dibanding satu dekade terakhir.
Sejumlah survei dan studi turut menggambarkan kegelisahan generasi muda terhadap dunia digital. Survei terbaru menunjukkan hampir setengah anak muda di Inggris menyatakan lebih memilih tumbuh di dunia tanpa internet. Studi lain menunjukkan hampir setengah remaja di Amerika Serikat dan hampir dua pertiga Gen Z di Inggris percaya media sosial berdampak buruk bagi mereka.
Bagi Turner, arah ke depan harus berangkat dari fokus pada politik, bukan semata pada mesin. Ia menekankan perlunya memikirkan apa yang diharapkan publik dari teknologi untuk kepentingan bersama yang lebih besar—sesuatu yang, menurutnya, tidak dilakukan oleh sebagian gerakan kontrabudaya pada masa awal, dan kini menjadi pekerjaan rumah yang mendesak.