Ancaman keamanan siber pada perangkat berbasis Windows 11 disebut terus berkembang. Salah satu tren yang mengemuka adalah kemunculan malware baru yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan dinilai lebih sulit dideteksi oleh antivirus konvensional.
Laporan PCWorld menyoroti salah satu contoh malware berbasis AI bernama “DeepLoad” yang menggunakan teknik serangan fileless. Dengan metode ini, malware tidak bergantung pada file mencurigakan yang biasanya lebih mudah dikenali sistem keamanan.
Serangan dijalankan dengan cara menipu pengguna agar menjalankan perintah yang tampak aman melalui Command Prompt atau PowerShell. Dari titik itu, infeksi dapat dimulai tanpa disadari.
Setelah berhasil masuk, malware dapat memanfaatkan alat bawaan Windows untuk mengelabui sistem dan berkomunikasi dengan server milik penyerang. Risiko yang ditimbulkan berpotensi serius karena malware semacam ini dapat digunakan untuk mencuri data sensitif, baik milik pengguna individu maupun perusahaan.
Perkembangan ini membuat antivirus tradisional semakin kesulitan mendeteksi ancaman. Pasalnya, banyak sistem keamanan lama masih mengandalkan identifikasi file atau pola serangan yang sudah dikenal, sementara malware berbasis AI disebut mampu menyesuaikan diri dan mengubah kode secara dinamis.
Situasi tersebut menjadi sinyal bahwa ancaman siber di Windows bergerak cepat, sehingga celah keamanan perlu segera ditutup lewat pembaruan sistem. Microsoft diketahui merilis pembaruan keamanan darurat pada pertengahan Maret untuk Windows 11, terutama versi Enterprise seperti 24H2, 25H2, dan varian LTSC.
Pembaruan itu menutup celah kritis pada layanan Routing and Remote Access Service (RRAS) yang berpotensi dimanfaatkan penyerang untuk menjalankan kode berbahaya dari jarak jauh. Dalam skenario tertentu, korban bahkan hanya perlu tersambung ke server yang telah disusupi agar sistem dapat diambil alih.
Ancaman keamanan juga tidak berhenti di level sistem operasi. Dalam pembaruan Patch Tuesday bulan Maret, Microsoft menutup lebih dari 80 celah keamanan, termasuk yang ditemukan di Excel dan aplikasi Office lainnya. Bahkan, pada kondisi tertentu, kode berbahaya disebut bisa dijalankan hanya melalui panel pratinjau di Outlook.
Di sisi lain, fitur berbasis AI seperti Copilot juga dinilai berpotensi membuka risiko baru, terutama jika data sensitif diproses atau diteruskan otomatis tanpa disadari pengguna.
Untuk mengurangi risiko, pengguna disarankan segera memasang pembaruan Windows, tidak sembarangan menjalankan perintah di PowerShell atau Command Prompt, serta lebih waspada terhadap instruksi mencurigakan yang beredar di internet maupun e-mail.