BERITA TERKINI
Mahir Aplikasi, Minim Literasi Digital: Pakar Ingatkan Risiko Keamanan Data pada Anak

Mahir Aplikasi, Minim Literasi Digital: Pakar Ingatkan Risiko Keamanan Data pada Anak

TARAKAN — Anggapan bahwa anak-anak masa kini otomatis melek teknologi dinilai perlu diluruskan. Meski banyak dari generasi Z dan Alfa terlihat mahir mengoperasikan beragam aplikasi terbaru, kemampuan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan literasi digital dan pemahaman keamanan data.

Dalam dialog Sapa Kaltara RRI Tarakan, disampaikan bahwa anak-anak kerap menerima informasi secara mentah tanpa menyaring kebenarannya. Mereka dinilai berani mencoba secara teknis, tetapi masih gagap dalam memahami etika digital serta ancaman kejahatan siber.

Dr. Jumiati menegaskan, literasi digital tidak sekadar kemampuan menggunakan gim atau mengedit video. Menurutnya, literasi digital juga mencakup cara menjaga data pribadi dan memahami konsekuensi hukum dari setiap unggahan di ruang digital.

Ia mengingatkan adanya berbagai bentuk kejahatan yang dapat bermula dari gim daring, mulai dari kekerasan verbal, perundungan, hingga pelecehan seksual, yang disebut mengintai anak-anak di bawah 18 tahun. Kondisi ini disebut turut diperparah oleh kebiasaan sebagian anak yang lebih memilih mengunggah status berisi keluh kesah ketimbang berbicara langsung dengan keluarga.

Dr. Lisia Kusumawati menekankan peran orang tua agar tidak tertinggal. Ia menyebut, sebelum mengarahkan anak, orang tua perlu mempelajari literasi digital terlebih dahulu agar dapat memantau konten yang diakses anak.

Menurutnya, pelarangan total bukan solusi, namun pembatasan tetap diperlukan. Ia menilai waktu layar yang produktif perlu diawasi, dan orang tua perlu hadir sebagai teladan dalam penggunaan gawai secara bijak.

Ia juga berpesan agar aktivitas anak di dunia digital diarahkan untuk hal bermanfaat, bukan untuk menjatuhkan orang lain. Penguatan pondasi agama dan etika dari rumah disebut tetap menjadi benteng penting di tengah derasnya arus digitalisasi.