LIXIL memperkuat perannya sebagai mitra strategis bagi arsitek, developer, dan desainer interior melalui berbagai inisiatif kolaboratif lintas disiplin. Perusahaan menyebut langkah ini membuka ruang pertukaran wawasan dan mendorong sinergi agar pelaku industri dapat tumbuh bersama.
Menurut LIXIL, kualitas ruang hidup kini menuntut integrasi desain, riset, inovasi, dan pemahaman keberlanjutan, sehingga tidak lagi dapat dibangun secara terpisah. “Kolaborasi menjadi standar baru dalam membentuk kualitas ruang hidup yang lebih baik, mulai dari aspek lingkungan hingga kesejahteraan masyarakat,” ujar Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara, dalam keterangan pada Selasa (28/4/026).
LIXIL menempatkan kesehatan dan sanitasi sebagai prioritas dengan menyatakan telah meningkatkan akses sanitasi bagi 103 juta orang di dunia, di tengah 3,4 miliar orang yang masih belum terlayani. Perusahaan juga menyoroti dampak ekonomi dari investasi sanitasi, dengan setiap US$1 investasi sanitasi berpotensi menghasilkan US$5.
Komitmen tersebut turut ditunjukkan melalui partisipasi LIXIL dalam pameran ARCH:ID 2026 dengan menghadirkan paviliun bertajuk “OASE: Architecture in the Water Cycle”. Paviliun ini menggabungkan berbagai disiplin ilmu untuk mengeksplorasi relasi air, sanitasi, dan sejarah perkotaan dalam pengalaman ruang yang bersifat edukatif.
Menurut LIXIL, paviliun tersebut ditujukan untuk mengedukasi publik melalui pendekatan visual, lanskap berkelanjutan, serta forum diskusi desain berbasis data lingkungan. Paviliun “OASE” meraih Best Booth Award dan menjadi salah satu sorotan pameran.
Paviliun “OASE” dikembangkan bersama Mamostudio, Labtek Apung, Sciencewerk, dan Larchstudio. Founder Mamostudio, Adi Purnomo, menyatakan OASE lahir dari upaya merespons isu air dan ruang hidup secara lebih terbuka dan partisipatif. Ia menilai kolaborasi dengan LIXIL sejalan sejak awal dan berkembang menjadi ruang diskusi yang lebih luas.
Adi juga mengapresiasi pendekatan LIXIL yang tidak hanya menampilkan produk, tetapi memfasilitasi pertukaran gagasan berbasis riset. Menurutnya, hal ini menunjukkan arsitektur dapat berkembang melalui dialog lintas disiplin sekaligus merefleksikan kepedulian terhadap isu perkotaan.
Sementara itu, Researcher Labtek Apung, Novita Anggraini, menjelaskan riset dalam paviliun dikembangkan secara lintas disiplin dengan melibatkan ilmu kimia, lingkungan, sejarah, arkeologi, hingga perencanaan kota, serta didukung LIXIL agar dapat diakses publik lebih luas.
Riset tersebut menyoroti krisis banjir dan wabah di Batavia pada era VOC yang dikaitkan dengan buruknya sanitasi, yang kemudian mendorong perubahan tata kota dari Old Batavia ke New Batavia. Temuan itu disebut menunjukkan bahwa sanitasi berperan besar dalam membentuk tatanan sosial.
Riset yang dimulai pada 2015 dan sempat dipresentasikan di forum internasional ini kini dihadirkan kepada publik Indonesia melalui paviliun sebagai ruang refleksi atas perjalanan peradaban serta respons terhadap isu air dan sanitasi.
Selain melalui pameran, LIXIL juga menegaskan kolaborasi lintas disiplin sebagai kunci inovasi lewat program LIXIL Architectural Design Competition (LADC) dan LIXIL Day of Architecture & Design (LDAD) yang telah berjalan sejak 2019.
LADC 2026 dijadwalkan berlangsung pada 18 Mei–5 Juli 2026 dan mengajak arsitek mengeksplorasi desain sebagai proses kolaboratif lintas budaya dan gagasan. Penjurian dilakukan dalam dua tahap untuk memilih lima finalis sebelum menentukan pemenang utama.
Adapun LDAD 2026 akan digelar pada 12 Agustus 2026 di Jakarta sebagai forum terbuka bagi arsitek, desainer, dan mahasiswa. Agenda ini akan menghadirkan pembicara nasional dan internasional untuk memperkuat diskusi arsitektur.
“Seluruh inisiatif ini dirancang sebagai ruang berkelanjutan untuk membentuk cara pandang arsitektur yang lebih adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan masa depan,” kata Arfindi.