BERITA TERKINI
Lima Strategi Mengurangi Ketergantungan Gadget pada Anak, dari Aturan Realistis hingga Teladan Orang Tua

Lima Strategi Mengurangi Ketergantungan Gadget pada Anak, dari Aturan Realistis hingga Teladan Orang Tua

Putusan pengadilan di Amerika Serikat yang menilai Meta dan Google sengaja merancang media sosial agar memicu kecanduan menjadi semacam pembenaran bagi kekhawatiran banyak orang tua. Dalam perkara yang melibatkan seorang perempuan bernama Kaley, pengacaranya berhasil meyakinkan bahwa fitur seperti infinite scroll di Instagram dibuat untuk membuat pengguna terus bertahan di aplikasi.

Namun bagi keluarga yang sehari-hari berhadapan dengan anak yang sulit lepas dari gawai, keputusan hukum dinilai tidak otomatis menyelesaikan persoalan di rumah. Sejumlah pakar pola asuh menekankan perlunya strategi yang lebih bijak untuk mengurangi screen time tanpa memicu konflik berkepanjangan.

1. Mulai dari langkah kecil dan realistis
Psikolog anak Dr. Jane Gilmour mengingatkan bahwa perubahan kebiasaan tidak mudah, sehingga orang tua disarankan tidak langsung menyita atau membuang perangkat. Ia menyarankan pembicaraan dilakukan saat suasana tenang, bukan ketika sedang berargumen. Salah satu cara praktis adalah menetapkan satu tempat khusus untuk mengisi daya, misalnya sebuah lemari. Ketika ponsel sedang dicas di tempat itu, hal tersebut menjadi penanda bahwa waktu layar telah berakhir.

2. Libatkan anak sebagai mitra
Menurut psikolog Dr. Maryhan Baker, remaja cenderung lebih kooperatif jika dilibatkan dalam penyusunan aturan, bukan hanya menerima instruksi sepihak. Ia menyarankan orang tua memvalidasi perasaan anak terlebih dahulu dan menunjukkan empati, misalnya dengan mengakui bahwa media sosial menjadi ruang berinteraksi dengan teman sekaligus ada tekanan bila tidak aktif. Setelah itu, orang tua dapat mengajak anak mendiskusikan waktu-waktu tertentu yang bebas dari ponsel. Ketertarikan orang tua pada konten yang ditonton anak juga dinilai dapat memperkuat hubungan dan memudahkan kerja sama.

3. Ubah durasi layar menjadi kesempatan belajar
Pakar menyarankan orang tua memanfaatkan rasa ingin tahu anak untuk membahas cara kerja teknologi. Diskusi kritis dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana, seperti bagaimana sebuah aplikasi membuat orang betah berlama-lama, atau mengapa perusahaan diuntungkan jika pengguna terus aktif. Orang tua juga dapat menonton konten bersama anak dan mengajarkan cara membedakan informasi yang benar dan yang keliru.

4. Orang tua menjadi teladan
Anak dinilai kuat dalam meniru perilaku. Karena itu, upaya mengurangi ketergantungan gawai pada anak perlu diiringi refleksi orang tua terhadap kebiasaan mereka sendiri. Dr. Jane Gilmour menyarankan orang tua tidak ragu mengakui jika terlalu lama menggunakan ponsel dan mengajak anak beristirahat bersama. Ia juga menilai rasa bosan dan melamun justru bermanfaat bagi kreativitas. Saat anak mengeluh tidak ada kegiatan, orang tua dapat membiarkannya sejenak sebagai ruang bagi imajinasi untuk bekerja.

5. Hindari kepanikan berlebihan
Dr. Tony Sampson dari University of Essex mengingatkan agar orang tua tidak terjebak dalam “kepanikan moral” ketika mendidik anak di era digital. Ia menekankan bahwa otak anak muda memiliki neuroplastisitas tinggi, sehingga lebih mudah beradaptasi dan pulih dibanding orang dewasa. Menurutnya, media sosial tidak benar-benar merusak fokus, melainkan menangkap dan mengalihkan perhatian ke konten komersial. Ia juga menyebut, jika digunakan secara positif, teknologi dapat mendorong kreativitas dan pembelajaran.

Beragam strategi ini menempatkan pengurangan waktu layar sebagai proses bertahap, dengan penekanan pada komunikasi, keterlibatan anak, serta konsistensi perilaku orang tua di rumah.