BERITA TERKINI
Lima Aplikasi AI yang Masih Jarang Disorot, dari Mesin Pencari hingga Infrastruktur Real-Time

Lima Aplikasi AI yang Masih Jarang Disorot, dari Mesin Pencari hingga Infrastruktur Real-Time

Penggunaan ChatGPT dan Google Gemini untuk membantu pekerjaan kini semakin umum di berbagai bidang. Namun, di luar dua nama besar tersebut, terdapat sejumlah platform kecerdasan buatan lain yang menawarkan kemampuan kompetitif, meski belum sepopuler keduanya.

Berikut lima aplikasi dan platform AI yang dinilai masih “underrated” dan dapat dicoba sesuai kebutuhan pengguna.

1. Perplexity AI
Perplexity AI bukan sekadar chatbot. Platform ini berfungsi sebagai mesin pencari berbasis AI yang menjawab pertanyaan dengan menyertakan sumber real-time dari internet. Berbeda dengan ChatGPT, Perplexity menelusuri web secara langsung lalu merangkum hasilnya dengan referensi yang dapat diklik. Karena menekankan jawaban yang disertai rujukan, platform ini disebut cocok untuk jurnalis, peneliti, penulis, atau pengguna yang membutuhkan informasi faktual dan terverifikasi.

2. Claude by Anthropic
Claude dikembangkan dengan menekankan aspek keamanan dan kejujuran sebagai fondasi. Platform ini disebut unggul dalam memahami konteks panjang, termasuk kemampuan membaca dan menganalisis dokumen berukuran ratusan halaman dalam satu sesi. Dukungan kemampuan bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, membuatnya dinilai relevan untuk penulis novel atau naskah film, serta profesional di bidang hukum dan konsultan bisnis.

3. Mistral AI
Mistral AI dikembangkan oleh startup asal Prancis dan mengusung pendekatan open-source. Modelnya dapat dijalankan secara lokal tanpa mengirim data ke server eksternal. Karakteristik ini menjadikannya opsi bagi organisasi yang sensitif terhadap privasi data, seperti sektor perbankan, kesehatan, pemerintah, militer, dan bidang lain yang memerlukan kontrol ketat atas informasi.

4. Poe by Quora
Poe memungkinkan pengguna mengakses beragam model AI—mulai dari GPT-4.0 hingga Claude—dalam satu antarmuka. Platform ini juga menyediakan fitur untuk membangun dan mendistribusikan chatbot dengan karakter kustom. Dengan kemampuan tersebut, Poe disebut cocok bagi konten kreator, pekerja seni, dan pendidik yang ingin membuat asisten belajar yang lebih dipersonalisasi.

5. Groq
Berbeda dari yang lain, Groq bukan model AI, melainkan infrastruktur untuk memproses prompt dengan kecepatan tinggi. Platform ini memanfaatkan chip LPU proprietary dan diklaim mampu memproses ratusan token per detik. Dengan latensi yang rendah, Groq diposisikan sebagai pilihan bagi pengembang yang membangun aplikasi real-time, seperti layanan pelanggan otomatis atau asisten suara.

Pada akhirnya, pemilihan alat AI dinilai tidak semata soal mengikuti tren, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan dan konteks pekerjaan. Sejumlah platform yang kurang disorot ini dapat menjadi alternatif di tengah dominasi ChatGPT dan Gemini, terutama karena menawarkan keunggulan pada bidang tertentu.