Lenovo memamerkan kemampuan AI globalnya dalam ajang Tech World 26 Hong Kong yang digelar Selasa, 10 Maret 2026, di Hong Kong Convention and Exhibition Center. Sejumlah solusi yang ditampilkan disebut mendukung prioritas pengembangan AI, mulai dari industrialisasi, pemberdayaan talenta, hingga kolaborasi ekosistem.
Sejalan dengan visi Hong Kong yang menempatkan inovasi dan teknologi sebagai pilar pertumbuhan ekonomi, perusahaan-perusahaan kini mulai bergeser dari tahap eksperimen AI menuju sistem agen operasional yang mampu bernalar, merencanakan, dan bertindak di lingkungan dunia nyata.
Menanggapi pergeseran tersebut, Lenovo memperkenalkan pendekatan Hybrid AI yang ditujukan untuk membantu perusahaan menerapkan, mengatur, dan menskalakan AI secara bertanggung jawab di berbagai industri dan infrastruktur.
Executive Vice President sekaligus President, Solutions & Services Group Lenovo, Ken Wong, mengatakan AI sedang memasuki fase baru yang berfokus pada implementasi dan dampak terukur. Menurutnya, ketika Hong Kong mempercepat adopsi AI di berbagai sektor, keberhasilan akan bergantung pada infrastruktur yang tepercaya, tata kelola yang kuat, serta kolaborasi ekosistem.
Pendekatan Hybrid AI Lenovo mengintegrasikan tiga pilar utama untuk menjawab tantangan adopsi. Pertama, Personal AI yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Kedua, Enterprise AI untuk mengatur dan mengelola sistem multi-agen. Ketiga, Public AI yang diarahkan untuk memungkinkan kolaborasi pada tingkat ekosistem dan kota.
Lenovo juga merujuk temuan dalam laporan CIO Playbook 2026 yang dikembangkan bersama IDC. Laporan itu mencatat bahwa meski investasi AI terus meningkat secara global dan di Hong Kong, banyak organisasi masih menghadapi kesenjangan kesiapan dan tata kelola. Di Hong Kong, 50% organisasi yang disurvei memperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 12 bulan untuk mencapai kesiapan AI.
Di tingkat kawasan, laporan tersebut menyebut 47% organisasi di Asia Pasifik masih dalam proses pengembangan kebijakan AI yang belum diterapkan. Kondisi ini mengindikasikan tantangan utama berada pada eksekusi, tata kelola, dan integrasi, bukan semata akses terhadap teknologi.
Dalam acara itu, Financial Secretary Daerah Administratif Khusus Hong Kong, Paul Chan, turut hadir dan menyampaikan bahwa setiap ekonomi besar mengakui pentingnya AI secara strategis. Ia mengatakan Hong Kong sedang mengembangkan AI sebagai industri strategis tersendiri sekaligus memanfaatkannya sebagai pendorong di seluruh perekonomian, yang disebutnya sebagai AI Plus.
Sejumlah demonstrasi aplikasi AI di Tech World 26 Hong Kong turut ditampilkan melalui kerja sama dengan FIFA dan 15th National Games (Hong Kong Region) di bidang olahraga, kemitraan dengan DreamWorks di bidang hiburan, serta kolaborasi dengan perusahaan robotik Yunji Technology dan perusahaan pengemudi otonom WeRide. Rangkaian kolaborasi tersebut menyoroti bagaimana AI dapat beroperasi dalam lingkungan yang kompleks dan real-time.