Prospek kinerja PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge pada 2026 dinilai berpeluang menguat seiring peluncuran layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA) 1,4 GHz melalui merek IRA – Internet Rakyat. Aktivasi layanan ini dimulai pada 19 Februari 2026, menandai fase eksekusi komersial yang telah berjalan penuh.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai proyek IRA berpotensi menjadi mesin pertumbuhan bagi WIFI pada tahun ini. Ia menyoroti target perusahaan yang membidik sekitar 5 juta pelanggan aktif pada 2026. Jika target tersebut tercapai, potensi pendapatan dari biaya berlangganan saja diperkirakan dapat menembus level triliunan rupiah.
“Menurut saya ini bisa sebagai mesin pertumbuhan utama ya. Jadi CAGR bisa naik di kisaran 63% prediksi saya,” ujar Nafan kepada Kontan, Senin (23/2/2026).
Dari sisi profitabilitas, WIFI dinilai memiliki keunggulan karena memanfaatkan infrastruktur kabel serat optik yang telah terpasang di jalur kereta api. Dengan strategi ini, perseroan tidak perlu membangun jaringan dari awal sehingga efisiensi biaya dinilai lebih terjaga.
Sentimen positif juga datang dari sisi regulasi. Kehadiran IRA – Internet Rakyat disebut sejalan dengan target program Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), yakni layanan internet berkecepatan 100 Mbps dengan harga maksimum Rp 147.000.
IRA – Internet Rakyat turut menawarkan paket fixed broadband seharga Rp 100.000 dengan kecepatan hingga 100 Mbps, unlimited data tanpa batas kuota, bebas biaya instalasi, serta gratis sewa modem. Nafan menilai dorongan agar harga layanan berada pada kisaran psikologis masyarakat, sekitar Rp 100.000 per bulan, dapat membantu memperluas adopsi layanan.
Selain faktor harga, meningkatnya permintaan data—termasuk untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) dan konsumsi konten digital—juga dinilai dapat menjadi pendorong tambahan bagi pertumbuhan bisnis WIFI.
Meski demikian, Nafan mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati. Dari sisi internal, beban bunga dan kebutuhan belanja modal (capex) berpotensi menekan kinerja. WIFI juga berisiko menghadapi perang harga di industri telekomunikasi.
Di luar itu, potensi kendala teknis dan hambatan birokrasi dapat memengaruhi pencapaian target pelanggan. Risiko biaya regulasi yang relatif tinggi di sektor telekomunikasi Indonesia juga disebut sebagai faktor yang perlu diwaspadai.
Terlepas dari berbagai risiko tersebut, Nafan masih menilai prospek WIFI menarik. Ia memberikan rekomendasi ADD untuk saham WIFI dengan target harga Rp 2.740 per saham.