Teknologi 5G dinilai menjadi fondasi penting untuk mendukung percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia, seiring perubahan perilaku pengguna dari konsumsi konten pasif menuju kreasi konten interaktif berbasis AI. Hal itu tercantum dalam laporan Ericsson ConsumerLab 2026 yang menyoroti kebutuhan jaringan seluler yang lebih cepat, responsif, dan stabil.
Dalam laporan tersebut, pergeseran pola penggunaan data disebut mendorong operator telekomunikasi untuk melakukan optimasi kualitas jaringan secara real-time. Ronni Nurmal, dalam keterangan resmi pada Sabtu (4/4/2026), menyatakan kebutuhan ini menuntut operator menghadirkan optimasi jaringan yang mengutamakan kebutuhan AI.
Ericsson menilai kecepatan reaksi AI kini menjadi faktor penting yang memengaruhi kepuasan pengguna terhadap jaringan. Seiring konvergensi AI, cloud, dan mobile, perangkat disebut terus mengirim data ke cloud untuk pembelajaran real-time serta personalisasi layanan.
Tren penggunaan AI juga diproyeksikan meluas ke berbagai perangkat di luar ponsel pintar dan laptop. Pada 2030, jumlah pengguna AI di perangkat seperti smartwatch, kacamata pintar, dan asisten smart car diperkirakan meningkat dua kali lipat. Selain itu, 46% aktivitas AI diprediksi berlangsung di luar rumah atau gedung, sehingga membutuhkan konektivitas yang stabil di berbagai lokasi.
Secara global, jumlah pelanggan 5G diproyeksikan mencapai 2,9 miliar pada akhir 2025 dan meningkat menjadi 6,4 miliar pada 2031. Pada periode tersebut, lebih dari 50% penggunaan data seluler diperkirakan didominasi jaringan 5G. Di Indonesia, target jangkauan 5G ditetapkan mencapai 32% pada 2030.
Ericsson ConsumerLab menekankan bahwa performa jaringan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan unduh, tetapi juga kualitas uplink serta pengalaman aplikasi real-time seperti panggilan video. Dalam konteks ini, integrasi AI dalam jaringan (AI for Networks) dan pemanfaatan jaringan untuk mendukung AI (Networks for AI) disebut menjadi kunci layanan yang adaptif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna.
Laporan tersebut juga mencatat, sekitar 20% pengguna di Indonesia saat ini rutin menggunakan AI yang menggabungkan teks, suara, atau gambar. Angka itu diperkirakan meningkat menjadi 41% pada 2030. Ericsson menilai 5G memungkinkan penggunaan AI di berbagai perangkat sekaligus, serta mempercepat adopsi layanan digital berbasis AR/VR, analitik video real-time, dan pengalaman imersif lainnya.
Di luar aspek teknologi, 5G juga dipandang sebagai bagian dari infrastruktur nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Dengan kemampuan jaringan yang lebih tinggi, operator dinilai dapat menghadirkan layanan digital yang lebih personal, cepat, dan andal, sekaligus menyiapkan fondasi menuju era 6G.
Survei Ericsson ConsumerLab dilakukan pada Juni–Agustus 2025 dengan melibatkan lebih dari 43.000 pengguna smartphone di 27 negara. Laporan itu juga menyebut terdapat sekitar 34.000 responden aktif 5G di Indonesia. Temuan survei tersebut menyimpulkan integrasi AI dan 5G diproyeksikan menjadi pendorong utama transformasi digital dalam beberapa tahun mendatang.