BERITA TERKINI
Krisis Memori Diprediksi Berlanjut hingga 2030, Harga Gadget Berpotensi Naik

Krisis Memori Diprediksi Berlanjut hingga 2030, Harga Gadget Berpotensi Naik

Krisis memori global disebut belum menunjukkan tanda mereda dan diperkirakan dapat berlanjut hingga 2030. Komponen utama seperti DRAM dan NAND berada dalam tekanan akibat permintaan yang meningkat, sementara pasokan belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar.

Situasi ini mulai terlihat pada harga RAM di pasaran. Modul DDR4 dan DDR5 dengan kapasitas yang umum digunakan, seperti 8GB hingga 32GB, dilaporkan mengalami kenaikan signifikan dan bahkan berpotensi melonjak lebih dari 100 persen. Kenaikan ini turut mendorong harga perangkat konsumen, mulai dari laptop, smartphone, hingga PC.

Salah satu pemicu utama krisis adalah pergeseran prioritas industri teknologi ke arah kecerdasan buatan. Produsen chip dinilai lebih memfokuskan pengembangan memori berteknologi tinggi seperti HBM untuk kebutuhan AI, ketimbang memori konvensional seperti DDR5 yang banyak dipakai pada perangkat konsumen.

Di sisi lain, produksi chip masih bergantung pada wafer semikonduktor yang ketersediaannya terbatas. Kesenjangan antara permintaan dan pasokan dinilai masih lebar, sementara peningkatan kapasitas produksi membutuhkan waktu bertahun-tahun. Kondisi tersebut membuat pasokan RAM untuk pasar umum semakin tertekan.

Permintaan dari sektor AI dan pusat data juga disebut ikut mempercepat konsumsi memori global. Sebagian besar produksi chip terserap untuk kebutuhan server dan komputasi skala besar, sehingga distribusi ke perangkat konsumen menjadi lebih terbatas.

Dampaknya mulai terasa pada komponen yang umum dipakai pengguna. RAM DDR5 16GB yang sebelumnya menjadi standar untuk laptop kelas menengah disebut ikut terkerek harganya. Hal serupa juga terjadi pada SSD berkapasitas 512GB hingga 1TB yang masih berada dalam ekosistem memori yang sama.

Jika kondisi berlanjut, harga gadget seperti laptop, PC, dan smartphone diperkirakan akan semakin mahal dalam beberapa tahun ke depan. Ada pula prediksi bahwa kenaikan harga dapat membuat sebagian orang menunda upgrade perangkat karena biaya yang kian sulit dijangkau.

Krisis memori ini tidak hanya menjadi isu industri, tetapi juga berpotensi berdampak langsung pada konsumen. Ke depan, masyarakat mungkin menghadapi harga perangkat yang lebih tinggi, pilihan spesifikasi yang lebih terbatas, serta siklus penggunaan gadget yang lebih panjang dari biasanya.