Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi meluncurkan Garuda Spark Innovation Hub di Jakarta pada Kamis (2/10). Peluncuran ini menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah untuk mendorong kemandirian digital nasional dan digelar bersamaan dengan pengumuman hasil Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan inisiatif tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun bangsa yang kokoh di atas kemampuan sendiri. Menurut Meutya, digitalisasi memiliki peran strategis dan berkaitan dengan aspek pertahanan serta kedaulatan negara.
Meutya juga menyinggung tingginya optimisme digital di kalangan anak muda Indonesia yang disebut mencapai 67%. Optimisme tersebut, kata dia, menjadi salah satu dasar penguatan program-program pengembangan ekosistem digital.
Dalam kesempatan yang sama, Komdigi merilis IMDI 2025 yang mencatat skor 44,53, meningkat dari 43,34 pada 2024. Meutya menyatakan Garuda Spark Innovation Hub ditujukan untuk mengakselerasi peningkatan indeks tersebut agar lebih signifikan pada 2026.
Meski pilar pemberdayaan yang didorong e-commerce menunjukkan pertumbuhan, Meutya menilai masih ada pekerjaan rumah pada sektor layanan publik digital. Ia menyebut sektor swasta bergerak lebih cepat dibandingkan pemerintah, sehingga diperlukan penguatan kolaborasi agar layanan digital pemerintah dapat mengejar ketertinggalan.
Garuda Spark Innovation Hub dirancang sebagai wadah fisik kolaborasi ekosistem digital, yang mempertemukan pemerintah, sektor swasta, calon startup, hingga talenta digital. Meutya menekankan peningkatan literasi digital tidak cukup dilakukan melalui pelatihan dari kelas ke kelas, melainkan perlu didukung ruang kolaborasi yang konkret.
Jakarta menjadi lokasi kedua setelah peluncuran di Bandung. Ke depan, Komdigi berencana memperluas jaringan dengan membuka dua hub tambahan di Medan dan Aceh hingga akhir 2025.
Melalui inisiatif ini, Komdigi menargetkan 4 juta penerima manfaat yang terdiri dari 2 juta talenta digital dan 2 juta technopreneur. Target tersebut disebut sebagai kontribusi terhadap sasaran nasional 12 juta talenta digital pada 2030.
Untuk mendukung pencapaian target, pendanaan direncanakan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan APBN, APBD, sektor swasta, BUMN, dan perusahaan teknologi. Meutya menyatakan optimisme bahwa meski industri teknologi global menghadapi tantangan, potensi Indonesia dinilai mampu membangkitkan kembali ekosistem digital.
Komdigi berharap program ini dapat memperkuat kepercayaan global terhadap startup Indonesia dan membuat Indonesia kembali diperhitungkan dalam transformasi digital di tingkat internasional.