BERITA TERKINI
Ketika Ramadhan Anak Dijalani Sendirian di Rumah yang Dipenuhi Layar

Ketika Ramadhan Anak Dijalani Sendirian di Rumah yang Dipenuhi Layar

Menjelang waktu berbuka puasa, seorang guru sekolah dasar menceritakan pengalaman yang menggugah saat ia menanyakan kegiatan Ramadhan di rumah kepada murid-muridnya. Sejumlah anak menjawab antusias: membantu ibu menyiapkan makanan berbuka, ikut ayah ke masjid, atau membaca Al-Qur’an bersama keluarga.

Namun, satu jawaban terdengar berbeda. Seorang anak menjawab polos, “Saya buka puasa sambil nonton YouTube, Bu. Ayah masih kerja, Ibu lagi main HP.”

Jawaban singkat itu memotret realitas yang kian sering ditemukan di keluarga modern. Rumah bisa tetap ramai oleh berbagai layar—televisi, ponsel, tablet—tetapi terasa sepi dari kebersamaan. Ramadhan yang semestinya menjadi momentum spiritual keluarga, pada sebagian anak justru berubah menjadi pengalaman yang dijalani sendiri.

Bagi anak, Ramadhan bukan semata bulan ibadah. Ramadhan juga menjadi ruang belajar kehidupan: memahami makna menahan diri, berbagi, serta mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, nilai-nilai itu tidak terutama tumbuh dari ceramah panjang, melainkan dari pengalaman yang mereka saksikan dan rasakan setiap hari di rumah.

Dalam psikologi perkembangan, anak belajar terutama melalui observasi dan keteladanan. Teori pembelajaran sosial yang dikembangkan psikolog Albert Bandura menjelaskan bahwa anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang dicontohkan.

Ketika anak melihat orang tua bangun sahur dengan kesadaran, membaca Al-Qur’an setelah maghrib, atau bersemangat menjalankan ibadah Ramadhan, pengalaman itu perlahan membentuk pemahaman spiritual dalam dirinya. Sebaliknya, ketika Ramadhan berlangsung tanpa keterlibatan orang tua, anak berisiko kehilangan figur teladan untuk memahami nilai ibadah.

Sejumlah penelitian tentang pendidikan agama dalam keluarga juga menekankan pentingnya peran rumah. Studi mengenai pembentukan kesadaran religius pada anak menyimpulkan bahwa interaksi keluarga, keteladanan orang tua, dan aktivitas ibadah bersama di rumah merupakan faktor utama dalam membangun kesadaran religius sejak usia sekolah dasar. Penelitian lain menunjukkan perilaku orang tua berpengaruh langsung terhadap perkembangan moral dan religius anak karena anak meniru sikap dan kebiasaan yang dilihat setiap hari.

Di era digital, tantangan pengasuhan semakin kompleks. Anak tumbuh dalam arus informasi instan. Mereka dapat menonton ceramah agama di internet, belajar doa dari aplikasi, hingga mengikuti kajian lewat media sosial. Teknologi dapat menjadi sarana belajar, tetapi tidak menggantikan pengalaman emosional yang lahir dari kebersamaan keluarga.

Seorang anak mungkin bisa menghafal doa dari video daring. Namun, kenangan tentang ayah yang mengajaknya berjalan ke masjid untuk tarawih, atau ibu yang membangunkannya sahur dengan penuh kasih, disebut dapat meninggalkan jejak yang lebih dalam dalam kehidupannya.

Ramadhan pada dasarnya bukan hanya ibadah personal, melainkan juga ruang pendidikan keluarga. Dalam ingatan banyak orang, bulan ini kerap menjadi momen hangat dalam rumah tangga: anak belajar berpuasa dengan bimbingan orang tua, berbuka bersama, dan merasakan suasana spiritual yang hidup di rumah.

Namun ritme kehidupan modern membuat kebersamaan itu semakin jarang terjadi. Kesibukan kerja, tekanan ekonomi, serta ketergantungan pada gawai mengurangi interaksi keluarga. Orang tua dapat hadir secara fisik di rumah, tetapi tidak selalu hadir secara emosional bagi anak.

Jika kondisi ini berlanjut, ada risiko Ramadhan bagi sebagian anak hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa makna mendalam. Mereka berpuasa, tetapi tidak merasakan pengalaman spiritual yang seharusnya menjadi inti ibadah.

Karena itu, Ramadhan dapat menjadi momen refleksi bagi orang tua—bukan semata menilai seberapa disiplin anak berpuasa, melainkan bagaimana pengalaman Ramadhan dihidupkan di rumah. Sejumlah langkah sederhana disebut dapat membantu menguatkan kembali makna Ramadhan dalam keluarga.

Pertama, menghadirkan kebersamaan dalam aktivitas ibadah, seperti sahur bersama, membaca Al-Qur’an setelah maghrib, atau shalat berjamaah di rumah. Kedua, mengurangi distraksi digital pada waktu-waktu penting, misalnya dengan menyepakati “zona bebas gadget” saat sahur dan berbuka agar interaksi keluarga lebih hangat.

Ketiga, melibatkan anak dalam aktivitas sosial Ramadhan, seperti berbagi makanan dengan tetangga, bersedekah, atau membantu kegiatan sosial di lingkungan sekitar. Langkah ini membantu anak memahami puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menumbuhkan empati. Keempat, membangun percakapan spiritual dengan anak—menjelaskan makna puasa, kisah teladan, serta pengalaman orang tua dalam menjalani Ramadhan untuk memperkaya pemahaman nilai agama.

Langkah-langkah tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi dinilai dapat berdampak besar dalam membentuk pengalaman spiritual anak. Pada akhirnya, anak tidak hanya belajar tentang Ramadhan dari buku atau video, melainkan dari cara orang tua menjalani Ramadhan setiap hari.

Ramadhan datang setahun sekali, tetapi kenangan yang terbentuk dapat bertahan seumur hidup. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan digital, menghadirkan kembali kehangatan keluarga disebut bisa menjadi salah satu ibadah penting bagi orang tua—karena bagi anak, Ramadhan yang paling berkesan bukan yang paling meriah, melainkan yang dijalani bersama ayah dan ibu.