Investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) di Timur Tengah menghadapi risiko meningkat seiring memanasnya ketegangan geopolitik. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari memicu kekhawatiran di kalangan perusahaan teknologi global yang selama ini menanamkan modal dalam skala sangat besar di kawasan tersebut.
Negara-negara Teluk Persia—termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar—dalam beberapa tahun terakhir menjadi tujuan investasi teknologi dari Amerika Serikat dan pelaku pasar keuangan Wall Street. Berbagai insentif, mulai dari fasilitas perkantoran hingga dukungan dana kekayaan negara, disebut menjadi daya tarik utama.
Namun, situasi dinilai berubah setelah pecah konflik bersenjata antara Iran dan koalisi AS-Israel. Pada Minggu (1/3/2026), serangan drone dilaporkan menghantam dua pusat data Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab, sebagaimana dilansir dari Tekno. AWS menyatakan salah satu Availability Zone (AZ) di region ME-CENTRAL-1, yakni mec1-az2, terpaksa dihentikan operasinya akibat insiden tersebut.
Sejumlah pelanggan melaporkan gangguan layanan komputasi awan, terutama pada API jaringan milik Amazon EC2. Kerusakan serupa juga dilaporkan terjadi pada fasilitas lain di Bahrain. Di saat yang sama, pemerintah AS menutup beberapa kedutaan besarnya di kawasan itu, termasuk di Kuwait dan Arab Saudi.
Perkembangan ini menambah kekhawatiran investor global. Sejumlah negara Teluk dikabarkan mempertimbangkan untuk mengurangi investasi luar negeri akibat dampak finansial konflik, menurut laporan Financial Times. Mona Yacoubian, direktur program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menyatakan tingkat kecemasan terhadap situasi tersebut meningkat tajam.
Kawasan Teluk saat ini juga diposisikan sebagai salah satu pusat pengembangan infrastruktur AI global. Salah satu proyek terbesar adalah UAE, pusat data AI berskala raksasa yang dioperasikan oleh OpenAI dan Oracle serta menggunakan chip AI kelas atas dari Nvidia.
Proyek bernilai 500 miliar dollar AS itu didanai oleh Softbank, OpenAI, Oracle, serta MGX/G42 (Group 42 Holding Ltd). Fasilitas tersebut direncanakan menjadi pusat data terbesar di dunia di luar Amerika Serikat.
Ancaman terhadap infrastruktur digital
Risiko tidak hanya menyasar pusat data. Kabel serat optik bawah laut yang melintasi Selat Hormuz dan Laut Merah juga dinilai rentan. Jalur kabel tersebut merupakan koridor penting lalu lintas data global yang menghubungkan Eropa dan Asia.
Para ahli mengkhawatirkan kabel-kabel itu dapat menjadi target sabotase atau mengalami kerusakan akibat aktivitas militer. Pada 2024, empat kabel bawah laut utama di Laut Merah rusak setelah kelompok Houthi menyerang sebuah kapal di kawasan tersebut.
Kristian Alexander, peneliti senior di Rabdan Security & Defense Institute di Abu Dhabi, menilai kerentanan infrastruktur teknologi di kawasan tersebut kini tidak lagi sebatas teori. Ia merujuk pada insiden Selasa lalu ketika puing-puing drone Iran yang berhasil dicegat jatuh di area penyimpanan minyak di Fujairah, yang juga disebut sebagai titik penting jaringan kabel bawah laut global. Alexander menegaskan, “Kerentannya tidak lagi bersifat hipotetis.”
Investor mulai evaluasi ulang
Sebelum konflik, banyak investor menilai kawasan Teluk relatif aman. Namun, sebagian analis telah lama mengingatkan bahwa kondisi itu bisa berubah. Pada 2023, analis geopolitik BCA Research, Matt Gertken, memperingatkan investor Barat mengenai potensi serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.
Dalam situasi terkini, negara-negara Teluk dilaporkan mulai mempertimbangkan langkah untuk memperkuat perlindungan pusat data dan jaringan teknologi. Salah satu opsi yang dibahas adalah merancang infrastruktur baru yang dapat bertahan dari serangan rudal. Alexander menyebut, risiko ini sebenarnya sudah dipahami di kalangan strategis, tetapi upaya mitigasi selama ini masih banyak berfokus pada keamanan siber.