Di tengah laju digitalisasi, proteksi data menjadi isu yang kian penting seiring berkembangnya serangan siber. Risiko ini tidak hanya mengancam perusahaan, tetapi juga konsumen ketika data pribadi dicuri. Dalam sejumlah kasus, pencurian data bahkan dapat berujung pada kerugian finansial.
President Director Everspin Indonesia, Gary Tanoesoedibjo, menilai kesadaran masyarakat terhadap sistem proteksi data saat ini masih belum memadai. Ia menyoroti kebiasaan pengguna yang kerap mengunduh aplikasi di ponsel tanpa mempertimbangkan potensi celah keamanan yang bisa muncul dari aplikasi tersebut.
Gary mencontohkan adanya aplikasi fintech yang, menurutnya, dapat mengakses daftar kontak pengguna ketika terjadi keterlambatan pembayaran, lalu menyebarkan pesan ke kontak-kontak tersebut. “Seperti ada satu aplikasi fintech yang di mana kalau kita telat pembayaran mereka bisa sedot contact list kita dan nge-blast ke semua teman-teman. Itu kan malu juga. Jadi ada unsur sekuriti yang konsumen enggak sadar, mereka asal download,” kata Gary di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis (24/1).
Untuk mengantisipasi serangan siber, Gary menekankan perlunya edukasi dua arah. Dari sisi konsumen, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua aplikasi aman. Sementara dari sisi produsen, pengembang aplikasi perlu memegang prinsip perlindungan data konsumen sejak awal, termasuk menyiapkan langkah mitigasi terhadap ancaman siber.
Ia menilai banyak produsen saat ini cenderung bersikap reaktif ketimbang preventif, yakni baru mencari solusi setelah sistem terlanjur dibobol. Menurutnya, pola pikir tersebut perlu diubah. “Jadi suplier harus ada pergantian mindset bahwa harus melindungi konsumen,” ujarnya.
Selain itu, Gary mengingatkan konsumen agar tidak sepenuhnya bergantung pada sistem keamanan aplikasi. Salah satu langkah pencegahan paling sederhana, menurutnya, adalah rutin mengganti kata sandi pada aplikasi yang sering digunakan.
Ia mengibaratkan aplikasi sebagai pintu dan modul keamanan sebagai gembok. “Analoginya, aplikasi itu seperti pintu dan sekuriti modul itu sebuah gembok. Mau gemboknya secanggih apapun kalau selama 2 bulan enggak diganti, itu maling bisa analisa ke dalam pintu tersebut,” tandasnya.