Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan optimistis pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dapat diikuti anak-anak yang tidak bersekolah pada jenjang SMA. Optimisme itu didasarkan pada data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menunjukkan mayoritas anak di Indonesia telah memiliki gawai atau ponsel.
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen, Saryadi, mengatakan tetap ada kemungkinan sebagian anak tidak memiliki perangkat. Namun, menurut dia, jumlahnya bukan mayoritas.
“Ya meskipun pasti ada anak-anak yang tidak memiliki gadget, tapi mayoritas mereka memiliki gadget,” kata Saryadi di BSD, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (23/4/2026).
Untuk anak yang tidak memiliki gawai, Kemendikdasmen menyiapkan alternatif pembelajaran melalui modul offline yang tersedia di sekolah induk atau sekolah mitra. Anak juga diperkenankan memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah, seperti komputer, laptop, maupun akses internet.
“Kami mengoptimalkan sumber daya existing, karena tadi selain online kami juga menyiapkan modul offline yang bisa digunakan oleh para siswa itu untuk belajar,” ujar Saryadi.
Ia menjelaskan, PJJ akan dijalankan dengan model sinkronus dan asinkronus. Sekitar 70 persen pembelajaran dilakukan melalui bahan ajar atau modul, sementara sisanya berupa tutorial untuk membahas materi yang dinilai sulit. Skema tersebut dirancang fleksibel agar tidak mengganggu kegiatan siswa, misalnya bagi mereka yang perlu membantu orangtua.
Pendaftaran PJJ direncanakan dapat dilakukan melalui laman yang sedang disiapkan atau langsung ke sekolah yang ditetapkan sebagai sekolah induk. Di sisi lain, pihak sekolah juga akan melakukan pendekatan jemput bola dengan mendatangi rumah anak-anak yang tidak bersekolah.
“Karena konsep yang diusung dalam PJJ ini sebagaimana tadi kami sampaikan, sekolah mendatangi anak yang tidak sekolahkan gitu ya. Mau tidak mau kan harus ada effort lebih dari sekolah, ada upaya yang lebih keras dari sekolah untuk bisa menjangkau anak-anak tadi,” kata Saryadi.
Program PJJ ini direncanakan berlangsung di 20 sekolah yang tersebar di 34 provinsi, ditambah satu SIKK yang menjadi pusat komentator PJJ. Penetapan sekolah mempertimbangkan daerah dengan angka anak tidak sekolah yang tinggi. Sekolah induk juga akan didampingi sekolah-sekolah mitra di wilayah sekitar.
Adapun 20 sekolah induk tersebut akan berada di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Gorontalo.