BERITA TERKINI
Keluhan ‘Krisis Ojol’ saat Ramadan Meningkat, Driver Selektif Ambil Order di Tengah Macet dan Lonjakan Permintaan

Keluhan ‘Krisis Ojol’ saat Ramadan Meningkat, Driver Selektif Ambil Order di Tengah Macet dan Lonjakan Permintaan

Fenomena yang disebut warganet sebagai “krisis ojol” ramai dibicarakan dalam beberapa hari terakhir. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika pengguna kesulitan mendapatkan pengemudi ojek online (ojol) untuk layanan pengantaran orang, barang, maupun makanan, terutama pada jam sibuk selama Ramadan.

Lita, pegawai swasta di Jakarta Utara, mengaku kesulitan memperoleh pengemudi meski tarif layanan naik pada jam sibuk. “Tidak ada yang mau mengambil order. Padahal saya buru-buru untuk menuju ke kantor,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Kamis (12/3).

Keluhan serupa disampaikan Setyo Ardiansyah, mahasiswa yang tinggal di Jakarta Barat. Ia mengatakan kesulitan mendapatkan pengemudi untuk memesan makanan maupun mengirim barang, termasuk pesanan e-commerce. “Sudah sejak minggu lalu. Mau pesan makanan, tidak pernah ada yang mau ambil saat siang, sore, atau bahan malam,” katanya kepada Katadata.co.id, Kamis (12/3).

Setyo menuturkan, pesanan e-commerce dengan opsi pengantaran instan baru ia terima tiga hari kemudian karena toko online kesulitan mendapatkan kurir.

Asti, pekerja di Jakarta Pusat, juga merasakan perubahan. Menurutnya, pada kondisi normal ia masih mudah mendapatkan pengemudi saat jam sibuk, kecuali ketika hujan. Namun belakangan, layanan ojol menjadi lebih sulit diakses dan waktu tunggu semakin panjang. “Sekarang memesan layanan ojek online sulit. Kalaupun dapat, itu lama sekali menunggunya, bisa sampai satu jam,” kata Asti kepada Katadata.co.id, Rabu malam (12/3).

Selain waktu tunggu, Asti menyebut tarif meningkat. Jika sebelumnya ia biasa mendapat tarif sekitar Rp 15 ribu, belakangan menjadi Rp 25 ribu, namun tetap tidak menjamin cepat memperoleh pengemudi.

Keluhan juga muncul di media sosial. Salah satu pengguna menulis di Thread pada Sabtu (7/3), “Jakarta sedang krisis ojol kah? Atau saya saja yang sial? Sudah beberapa minggu ini, saya memesan Gofood dan Shopee instan, tetapi susah sekali mendapatkan driver.” Unggahan itu memicu respons warganet lain yang menyampaikan pengalaman serupa.

Dari sisi pengemudi, mitra Shopee Nurwansyah mengatakan jumlah pesanan meningkat menjelang Lebaran. Ia menduga lonjakan itu berkontribusi pada sulitnya konsumen mendapatkan pengemudi atau kurir. “Memang sedang banyak pesanan menjelang Lebaran,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Rabu (11/3), saat mengantar order instan yang baru bisa diantar setelah tiga hari pemesanan.

Mitra pengemudi Gojek, Edy, menyebut permintaan meningkat selama Ramadan, sementara pengemudi menjadi lebih selektif karena kondisi lalu lintas yang padat. “Selama Ramadan ini, order memang meningkat sekali. Pengemudi pun selektif, karena kondisi jalanan yang macet,” katanya kepada Katadata.co.id, Rabu malam (11/3).

Edy menjelaskan, ia mempertimbangkan rute dan tingkat kemacetan sebelum menerima pesanan, terutama untuk jarak dekat sekitar 1,5 kilometer hingga tiga kilometer dengan tarif sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. Jika rute melewati jalan padat, ia cenderung menolak karena waktu tempuh bisa membuat pendapatan tidak sebanding. Ia juga enggan mengambil order jika titik jemput terlalu jauh dari posisinya.

Pandangan serupa disampaikan mitra pengemudi Grab, Suryadi. Ia mencatat permintaan layanan pengantaran orang, makanan, dan barang meningkat selama Ramadan, terutama menjelang Lebaran. Namun kemacetan, terutama jelang berbuka puasa, membuatnya memilih tidak mengaktifkan aplikasi pada periode tertentu. “Saya lebih memilih offbid,” katanya kepada Katadata.co.id, Rabu malam (13/2).

Menurut Suryadi, saat kemacetan parah ia hanya bisa melayani satu hingga dua penumpang dalam dua jam, dibanding hari biasa yang bisa mencapai empat pelanggan. Ia biasanya kembali mengaktifkan aplikasi setelah pukul 19.00 WIB. Ia juga menyebut lebih memilih mengambil pesanan pengantaran paket pada siang hari karena kondisi lalu lintas belum sepadat sore.

Gojek dan Grab menyatakan telah mencermati keluhan konsumen terkait sulitnya mendapatkan pengemudi. Head of Driver Operations Gojek Bambang Adi Wirawan mengatakan, pada periode akhir Ramadan dan menjelang libur Idulfitri terjadi perubahan pola pemesanan atau lonjakan permintaan pada jam sibuk, khususnya di area bisnis pusat Jakarta. Ia menyebut jam sibuk selama Ramadan di Jakarta dimulai lebih awal, sekitar pukul 15.30 WIB, dengan puncak peningkatan pemesanan pada pukul 16.00–18.00 WIB.

Menurut Bambang, pada periode akhir Ramadan sebagian mitra pengemudi, khususnya di kota-kota besar, mulai mudik atau memilih menghabiskan waktu bersama keluarga. Berdasarkan data internal Gojek pada 2025, mitra kembali beraktivitas bertahap pada pekan pertama hingga kedua setelah Idulfitri seiring normalnya aktivitas masyarakat.

Ia menambahkan faktor eksternal seperti hujan yang menyebabkan genangan di sejumlah titik dapat memicu kepadatan lalu lintas dan memengaruhi ketersediaan pengemudi. Akibatnya, pesanan pelanggan pada periode ini bisa membutuhkan waktu tambahan untuk diterima mitra.

Gojek mengimbau pengguna mengalokasikan waktu lebih untuk pemesanan dan perencanaan perjalanan. Dari sisi mitra, Gojek menyebut akan menerapkan skema tarif khusus pada periode libur Idulfitri untuk meningkatkan peluang pendapatan, serta insentif atau bonus tambahan bagi mitra yang menyelesaikan jumlah order tertentu.

Director of Mobility, Food, and Logistics Grab Indonesia Tyas Widyastuti juga menyatakan permintaan layanan Grab meningkat signifikan, baik pengantaran orang, barang (GrabExpress), maupun makanan (GrabFood). Namun, ketersediaan mitra pengemudi turut dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk cuaca hujan ekstrem yang sempat memicu banjir di beberapa ruas jalan serta kepadatan lalu lintas yang lebih tinggi dari biasanya. Kondisi ini, menurut Tyas, membuat konsumen membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pengemudi.

Tyas mengatakan tim operasional Grab tengah melakukan berbagai langkah untuk menstabilkan ketersediaan mitra dan menjaga kualitas layanan, termasuk penyesuaian operasional di area dengan permintaan tinggi. Grab menyatakan akan memantau situasi dan melakukan penyesuaian agar layanan bagi pengguna, merchant, dan mitra dapat berjalan lebih optimal menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Sementara itu, Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia Satrya Pinandita menyebut meningkatnya aktivitas masyarakat selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri memicu lonjakan volume pesanan di layanan on demand dan pengiriman cepat. Shopee juga mengamati pola serupa pada 2025, termasuk penurunan ketersediaan mitra pengemudi yang menurutnya juga terjadi pada Ramadan dan Idulfitri tahun sebelumnya.

Satrya mengatakan penurunan ketersediaan lebih terasa di wilayah Jabodetabek, sementara di luar Jabodetabek relatif lebih stabil. Ia menambahkan, sebagian mitra pengemudi telah pulang kampung, terutama mereka yang biasa beroperasi di kota-kota besar. Selain itu, curah hujan tinggi dapat membuat proses penjemputan paket lebih menantang karena berdampak pada lalu lintas dan mobilitas pengemudi.

Shopee menyatakan terus berkoordinasi dengan mitra logistik untuk meningkatkan pengalaman layanan. Sejak pekan lalu, Shopee juga menyampaikan informasi melalui aplikasi kepada pembeli dan penjual terkait potensi penyesuaian waktu layanan agar pengguna dapat memantau proses pengiriman dan menyesuaikan kebutuhan pengiriman.