BERITA TERKINI
Kecanduan Gawai pada Anak dan Dampaknya bagi Emosi, Tidur, hingga Perilaku

Kecanduan Gawai pada Anak dan Dampaknya bagi Emosi, Tidur, hingga Perilaku

Penggunaan telepon pintar atau gawai pada anak kian menjadi perhatian seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Di satu sisi, perangkat ini dapat membantu proses belajar dan memudahkan komunikasi. Namun di sisi lain, pemakaian yang berlebihan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak.

Data UNICEF menunjukkan sebagian besar anak di Indonesia telah menggunakan internet setiap hari, terutama untuk hiburan dan media sosial. Aktivitas tersebut juga membawa sejumlah risiko bila tidak diawasi, mulai dari paparan konten yang tidak pantas hingga gangguan kesehatan mental dan sosial.

Sejumlah penelitian mencatat kecanduan gawai dapat memengaruhi kondisi emosional anak. Anak yang terlalu sering terpapar konten digital dan kurang berinteraksi di dunia nyata disebut lebih rentan menjadi mudah marah, cemas, serta kurang stabil secara emosi.

Intensitas penggunaan gawai yang tinggi juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan mental, seperti depresi dan kecemasan. Dalam beberapa studi, paparan media sosial secara terus-menerus dapat memengaruhi citra diri anak dan memicu tekanan psikologis.

Dampak lain yang kerap muncul adalah gangguan tidur. Cahaya biru dari layar gawai diketahui dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang berperan mengatur siklus tidur. Akibatnya, anak bisa mengalami kesulitan tidur atau terbiasa begadang, yang kemudian berdampak pada kesehatan fisik serta konsentrasi belajar.

Kementerian terkait juga menegaskan penggunaan gawai pada anak dapat menyebabkan kecanduan dan berpengaruh pada kesehatan secara menyeluruh, baik fisik maupun mental. Dampaknya antara lain penurunan kemampuan konsentrasi serta terganggunya perkembangan kognitif.

Dari sisi perilaku, kecanduan gawai disebut dapat membuat anak lebih sulit diatur, kurang bersosialisasi, dan cenderung individualis. Penelitian juga menunjukkan penggunaan gawai berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial langsung dengan lingkungan sekitar.

Dalam keseharian, anak yang terlalu sering menatap layar juga berisiko mengalami gangguan pola makan dan belajar. Fokus pada gawai dapat membuat anak mengabaikan waktu makan, belajar, hingga aktivitas fisik yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangannya.

Para ahli menekankan peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai pada anak. Edukasi literasi digital, pembatasan waktu layar, serta mendorong aktivitas non-digital seperti olahraga dan interaksi sosial dinilai dapat membantu meminimalkan dampak negatif penggunaan gawai.