BERITA TERKINI
Kasus Fraud di Startup Tekan Kepercayaan Investor, Modal Ventura Susun Maturation Map untuk Perketat Seleksi

Kasus Fraud di Startup Tekan Kepercayaan Investor, Modal Ventura Susun Maturation Map untuk Perketat Seleksi

Sejumlah kasus fraud di startup digital, termasuk Investree dan eFishery, disebut memengaruhi kepercayaan investor terhadap ekosistem startup Indonesia. Dampaknya terlihat pada penurunan nilai investasi startup digital di Indonesia sepanjang semester pertama 2025, di tengah kecenderungan investor untuk memperketat seleksi pendanaan.

Direktur BNI Venture, Eddi Danusaputro, mengatakan kasus-kasus tersebut memicu kehati-hatian yang lebih besar, terutama dari investor asing. Menurutnya, tingkat kepercayaan investor luar negeri terhadap ekosistem startup Indonesia mengalami penurunan.

Penurunan kepercayaan itu, kata Eddi, tercermin dalam pergeseran posisi Indonesia di kawasan. Dari sisi jumlah transaksi, Indonesia masih berada di peringkat kedua di Asia Tenggara pada semester pertama 2025. Namun dari sisi nilai transaksi, Indonesia turun ke peringkat kelima, disalip Filipina, Vietnam, dan Malaysia. Sebelumnya, Indonesia disebut konsisten berada di peringkat dua atau tiga.

Data pendanaan startup Asia Tenggara semester I 2025 yang disusun DealStreetAsia bersama Kickstart Ventures mencatat nilai investasi di beberapa negara sebagai berikut: Singapura sebesar US$ 1,2 miliar (turun 44% secara tahunan), Vietnam US$ 275 juta (naik 169%), Malaysia US$ 196 juta (meningkat dua kali lipat), Filipina US$ 86,4 juta, Indonesia US$ 78,5 juta (turun 67%), dan Thailand US$ 10 juta.

Eddi menilai penurunan tersebut mengindikasikan adanya persoalan struktural dalam ekosistem, terutama terkait tata kelola dan kesiapan startup dalam menerima pendanaan. Dalam situasi ini, investor dinilai cenderung mengalihkan perhatian ke sektor yang lebih mudah dipahami dan dianggap berisiko lebih rendah, salah satunya New Retail—istilah yang digunakan untuk bisnis konvensional seperti makanan dan minuman.

Ia mencontohkan sejumlah merek seperti Kopi Kenangan hingga Sei Sapi yang disebut mengalami oversubscription karena model bisnisnya dinilai lebih jelas. Menurut Eddi, investor merasa lebih aman karena memahami cara kerja bisnis tersebut, sekaligus menganggap risiko dibohongi pendiri lebih kecil.

Dari sisi tahapan pendanaan, investor disebut kini lebih banyak membidik pendanaan Series A dan awal Series B. Seed stage dinilai terlalu berisiko, sedangkan late stage dianggap mahal karena valuasi sudah tinggi.

Untuk merespons kondisi tersebut, asosiasi modal ventura di kawasan menyusun pedoman berupa pemetaan tingkat kematangan startup atau maturation map. Peta ini disusun oleh Singapore Venture & Private Capital Association (SVCA) bersama Amvesindo (Indonesia), TVCA (Thailand), VPCA (Vietnam), dan MVCA (Malaysia). Dokumen tersebut berisi rekomendasi praktis bagi pendiri startup, investor, konsultan, dan regulator, sekaligus menjadi acuan dalam seleksi investasi.

Eddi menjelaskan, maturation map menekankan bahwa semakin matang sebuah startup, semakin kompleks pula tata kelola yang harus dipenuhi. Ia memberi contoh, startup tahap awal mungkin belum mampu menyusun laporan keuangan teraudit. Namun jika sudah mencapai Series C dan masih belum diaudit, hal itu dinilai menjadi persoalan serius.

Struktur organisasi juga menjadi perhatian. Pada tahap seed, startup yang hanya memiliki satu atau dua direksi masih dianggap wajar. Namun memasuki Series A, keberadaan dewan komisaris dinilai penting. Sementara pada tahap Series B, startup idealnya sudah memiliki komisaris independen serta struktur manajemen yang lebih lengkap.

Eddi juga menyoroti kewajiban dasar pelaporan keuangan. Startup yang sudah menghasilkan pendapatan seharusnya memiliki laporan arus kas bulanan, tetapi ia menyebut masih banyak yang belum memenuhi standar tersebut. Menurutnya, seiring pertumbuhan perusahaan, aspek governance, perangkat, dan dokumentasi juga harus bertambah—yang menjadi inti dari maturation map.

Dalam pemetaan tersebut, standar kematangan startup dibagi dalam beberapa tahap. Pada fase pre-revenue (pendanaan kurang dari US$ 5 juta), startup diharapkan memiliki tata kelola dasar, pembaruan laporan kas bulanan, serta laporan keuangan yang belum diaudit. Pada early stage (US$ 5–20 juta), standar mencakup laporan laba rugi dan neraca bulanan, pelatihan kewajiban fidusia bagi pendiri, serta delegasi wewenang yang jelas.

Berikutnya pada early growth (US$ 20–75 juta), startup diharapkan menunjuk auditor internal, menerapkan sistem ERP, menjalani audit eksternal oleh Kantor Akuntan Publik, serta membentuk Komite Audit dan Risiko. Pada growth stage (US$ 75–200 juta), standar meningkat mencakup penunjukan direktur independen non-investor, pelaksanaan stress testing, sertifikasi ISO, serta mekanisme whistleblower melalui pihak ketiga.