Kasus dugaan manipulasi laporan keuangan yang melibatkan eFishery, salah satu startup unicorn Indonesia, memantik kembali perdebatan lama di ekosistem digital: antara pihak yang mendukung pertumbuhan startup dan kelompok yang skeptis terhadap model bisnis startup, kerap disebut sebagai “anti-startup”. Di tengah sorotan tersebut, diskusi mengerucut pada pertanyaan mendasar: apa yang keliru, dan bagaimana ekosistem startup dapat diperbaiki agar lebih sehat?
Manipulasi laporan keuangan eFishery mencuat setelah investigasi internal menemukan perbedaan signifikan antara data yang disampaikan kepada investor dan kondisi keuangan sebenarnya. Perusahaan yang selama ini dipandang sebagai contoh sukses inovasi teknologi di sektor perikanan itu disebut mengalami kerugian Rp 575 miliar, berbanding terbalik dengan narasi kinerja positif yang sebelumnya dilaporkan. Selain itu, muncul tuduhan penggelembungan pendapatan hingga hampir Rp 10 triliun.
Perdebatan “startup vs anti-startup” kembali menguat
Di kalangan pendukung startup, kasus eFishery dipandang sebagai insiden yang tidak semestinya digeneralisasi untuk menilai seluruh ekosistem startup di Indonesia. Mereka menekankan bahwa praktik buruk satu perusahaan tidak otomatis mencerminkan karakter industri secara keseluruhan.
Di sisi lain, kelompok skeptis memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kritik bahwa sebagian startup dinilai terlalu fokus mengejar valuasi tinggi dan pertumbuhan cepat, sementara aspek profitabilitas dan keberlanjutan bisnis kerap dinomorduakan.
Valuasi tinggi dan risiko “perangkap pertumbuhan”
Startup selama ini dikenal sebagai pendorong inovasi lintas sektor, dari transportasi hingga pendidikan, dengan menawarkan solusi berbasis teknologi. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit perusahaan rintisan yang terjebak dalam apa yang kerap disebut “perangkap valuasi”: orientasi utama diarahkan pada peningkatan nilai perusahaan untuk menarik pendanaan, alih-alih membangun fondasi bisnis yang stabil.
Kasus eFishery kemudian menjadi contoh yang sering disebut dalam perdebatan tersebut. Tuduhan penggelembungan data keuangan dinilai memperlihatkan bagaimana pencitraan kinerja dapat digunakan untuk mempertahankan persepsi sukses di mata pasar, meski akhirnya berisiko runtuh ketika ketidaksesuaian terungkap.
Kritik yang mengemuka: pendanaan, tata kelola, dan keberlanjutan
Kelompok skeptis—yang digambarkan banyak berasal dari pengamat tradisional dan pelaku bisnis konvensional—selama ini menyoroti sejumlah kelemahan yang dianggap kerap muncul dalam operasional startup. Di antaranya ketergantungan tinggi pada pendanaan eksternal, lemahnya tata kelola, serta prioritas pertumbuhan yang mengorbankan profitabilitas.
- Ketergantungan pada pendanaan eksternal: Banyak startup dinilai bertahan karena suntikan dana investor, bukan karena pendapatan organik yang kuat.
- Tata kelola yang lemah: Fokus pada pertumbuhan cepat disebut dapat membuat pengawasan internal dan akuntabilitas terabaikan.
- Keberlanjutan bisnis: Strategi ekspansi agresif tanpa fondasi keuangan yang memadai dinilai berisiko memicu masalah di kemudian hari.
Meski demikian, tidak semua kritik disebut berangkat dari niat konstruktif. Sebagian kritik juga dinilai muncul dari ketidaktahuan atas karakter industri teknologi yang berbeda dari model bisnis konvensional.
Arah perbaikan: transparansi, audit, dan perubahan fokus
Untuk membangun ekosistem startup yang lebih sehat, sejumlah langkah perbaikan mengemuka. Salah satunya adalah penguatan transparansi dan tata kelola perusahaan. Kasus eFishery menegaskan pentingnya data yang dapat diverifikasi serta perlunya audit independen dalam proses penilaian perusahaan, terutama dari sisi investor.
Selain itu, startup juga didorong menggeser fokus dari semata mengejar valuasi menuju prioritas pada profitabilitas dan keberlanjutan. Perubahan orientasi tersebut dinilai dapat memperkuat stabilitas keuangan perusahaan sekaligus menjaga kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Edukasi investor juga disebut penting agar pemahaman terhadap risiko investasi startup meningkat, sehingga potensi terjadinya manipulasi atau praktik pelaporan yang tidak sehat dapat ditekan.
Peran pemerintah dalam pengawasan
Pemerintah turut dipandang memiliki peran dalam membentuk ekosistem yang lebih sehat melalui regulasi yang lebih ketat dan mekanisme pengawasan yang lebih kuat. Dengan kerangka pengawasan yang memadai, risiko manipulasi laporan keuangan dan praktik bisnis tidak sehat lainnya dinilai dapat diminimalkan.
Pelajaran bagi ekosistem
Kasus eFishery menjadi pengingat bahwa ekosistem startup Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah, terutama pada aspek tata kelola dan keberlanjutan model bisnis. Di satu sisi, startup tetap menyimpan potensi besar untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, praktik yang tidak akuntabel dan orientasi pertumbuhan tanpa fondasi yang kuat dapat menjadi bumerang bagi industri.
Dalam situasi ini, pendukung startup didorong untuk menjadikan momentum sebagai ajang pembenahan, sementara kelompok skeptis diharapkan menyampaikan kritik yang lebih konstruktif. Pada akhirnya, kedua kubu memiliki kepentingan yang sama: ekosistem startup yang sehat sebagai salah satu kunci pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.