Kaspersky melaporkan lonjakan ancaman digital di Indonesia sepanjang 2025. Perusahaan keamanan siber global ini menyebut telah mendeteksi dan memblokir lebih dari 14,9 juta serangan berbasis web, serta 39,7 juta ancaman yang menyasar perangkat.
Selain itu, Kaspersky mencatat meningkatnya kompleksitas serangan. Sekitar 20 persen perusahaan di Indonesia dilaporkan mengalami serangan rantai pasokan (supply chain attack), seiring percepatan transformasi digital.
Di tengah situasi tersebut, Kaspersky juga mengumumkan kinerja bisnis yang tumbuh. Secara global, penjualan perusahaan pada 2025 mencapai hampir USD 836 juta, naik 4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan global ini terutama didorong segmen bisnis ke bisnis (B2B) yang meningkat 16 persen YoY, sejalan dengan kebutuhan perusahaan terhadap solusi keamanan berbasis teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI).
Managing Director APAC Kaspersky, Adrian Hia, menyatakan AI kini menjadi fondasi penting keamanan digital modern. Dalam keterangan resmi pada Jumat (10/4/2026), ia mengatakan Kaspersky telah mengadopsi pembelajaran mesin dan AI dalam keamanan siber sejak 2004 untuk melindungi pengguna individu hingga infrastruktur penting.
Untuk pasar Indonesia, Kaspersky menyebut pertumbuhan bisnis mencapai 3 persen YoY. Segmen konsumen (B2C) tercatat melonjak 48 persen YoY, yang dinilai mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keamanan digital.
Kaspersky juga menyampaikan penguatan komitmen di Indonesia dengan menunjuk Defi Nofitra sebagai Country Manager pertama. Adrian Hia menyatakan optimisme terhadap prospek pertumbuhan seiring semakin matangnya ekosistem keamanan siber di Indonesia.
Dalam menghadapi ancaman yang kian beragam, termasuk Advanced Persistent Threat (APT) dan serangan yang memanfaatkan AI, Kaspersky mendorong pendekatan keamanan yang lebih proaktif melalui Security Operations Center (SOC) berbasis AI. SOC merupakan pusat operasi yang berfungsi memantau, mendeteksi, dan merespons ancaman siber secara real-time.
Berdasarkan riset Kaspersky, 58 persen perusahaan menilai SOC dapat meningkatkan keamanan. Sementara itu, 65 persen berencana mengintegrasikan AI ke dalam SOC, dan 53 persen menyebut percepatan deteksi ancaman sebagai alasan utama penerapan pendekatan tersebut.