Perkembangan teknologi siber dinilai semakin berperan besar dalam kehidupan masyarakat. Namun, di tengah manfaatnya, berbagai bentuk kejahatan siber seperti peretasan (hacking) dan pencurian data juga disebut kian marak terjadi.
Kepala Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi (Sistekin) Fakultas Teknik Untag Surabaya, Supangat M.Kom., Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap teknologi siber, terutama terkait etika dalam penggunaan teknologi tersebut.
Dampak positif dan negatif teknologi siber
Supangat menjelaskan bahwa perkembangan teknologi siber memunculkan dampak positif sekaligus negatif. Menurutnya, sisi positif terlihat dari peningkatan akses informasi dan pendidikan, percepatan komunikasi, serta pengurangan biaya produksi dalam dunia bisnis.
Di sisi lain, ia mengingatkan adanya dampak negatif yang tidak kalah besar. Kejahatan siber yang memanfaatkan teknologi dapat menimbulkan kerugian signifikan, memunculkan ketergantungan pada teknologi, serta menghadirkan persoalan keamanan dan privasi baru bagi pengguna.
Etika teknologi siber dan kaitannya dengan aspek hukum
Supangat menilai masyarakat perlu memahami etika teknologi siber, yakni seperangkat nilai dan prinsip moral untuk mengatur tindakan dan perilaku di dunia siber. Pemahaman ini dianggap penting agar penggunaan teknologi tidak menimbulkan dampak merugikan.
Ia juga menyinggung dampak pada aspek hukum, antara lain terkait penggunaan bukti elektronik, pemakaian jaringan komunikasi yang aman, serta penggunaan perangkat lunak intelijen buatan (AI). Ia mencontohkan tindak kejahatan seperti peretasan dan pencurian identitas yang dapat menyebabkan kerugian besar bagi korban, sehingga memerlukan penanganan dari pihak berwenang.
Langkah menjaga keamanan data dan privasi
Supangat menekankan bahwa pemahaman etika teknologi siber setidaknya dapat membantu masyarakat menjaga keamanan data dan privasi. Tanpa pemahaman tersebut, risiko kebocoran data pribadi melalui peretasan perangkat dapat meningkat.
Ia menyarankan penerapan manajemen kata sandi yang kuat, termasuk penggunaan autentikasi dua faktor untuk membantu melindungi privasi data. Pada aplikasi obrolan daring, ia juga menganjurkan penggunaan enkripsi ujung ke ujung (end-to-end encryption) agar pesan tidak dapat dibaca pihak ketiga.
Pentingnya pelatihan dan regulasi
Terkait upaya meningkatkan pemahaman masyarakat, Supangat menyebut pelatihan keamanan siber sebagai salah satu langkah yang dapat dilakukan. Selain itu, ia menilai perlunya regulasi yang ketat dalam penggunaan teknologi guna melindungi masyarakat.
- Mengikuti pelatihan keamanan siber yang tepat
- Menerapkan kata sandi kuat dan autentikasi dua faktor
- Menggunakan enkripsi ujung ke ujung pada komunikasi daring
- Mendorong regulasi yang melindungi masyarakat dalam penggunaan teknologi